Kamis, 12 Juni 2014

DEKODENISASI "THE DA VINCI CODE" (Part 2)

Yakub Tri Handoko, Th. M



The Priory of Sion

Seperti yang sudah disinggung di awal tulisan ini, Brown secara eksplisit menyatakan bahwa catatan tentang beberapa organisasi/sekte dalam DVC (The Priory of Sion dan Opus Dei) sebagai fakta. Sejauh mana batasan “fakta” yang dimaksud Brown di sini? Bagian ini hanya akan menganalisa eksistensi The Priory of Sion, karena organisasi ini menjadi dasar dan pusat cerita DVC. The Knight Templar dan Opus Dei hanya ditampilkan Brown sebagai pelengkap cerita saja. Seandainya The Priory of Sion memang pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena dan bahwa Leonardo Da Vinci pernah menjadi anggotanya, maka cerita DVC memiliki benang merah yang sangat masuk akal. Sebaliknya, seandainya keterangan Brown salah (terutama tentang keanggotaan Da Vinci), maka novel/film Brown akan kehilangan inti cerita, yaitu kode Da Vinci. Dengan kata lain, seandainya Da Vinci bukan anggota The Priory of Sion, maka DVC dari sisi historis sudah gagal sejak awal.


Apakah sekte The Priory of Sion sungguh-sungguh ada? Benarkah organisasi ini merupakan pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena melalui indikasi-indikasi implisit dalam berbagai tulisan kuno, lukisan dan arsitektur? Untuk meneliti ini sebaiknya dimulai dari pernyataan Brown sendiri bahwa “faktualitas” The Priory of Sion ia dapatkan dari perkamen di Paris’ Bibliotheque Nationale yang disebut Les Dossiers Secrets. Dalam hal ini Brown sangat dipengaruhi oleh buku Holy Blood Holy Grail yang juga memakai Les Dossiers Secrets sebagai dasar teori mereka. Di sinilah letak kesalahan terbesar Brown. Les Dossiers Secrets adalah dokumen palsu.


Eksistensi perkamen tersebut secara historis dapat ditelusuri sampai pada tahun 1950-an. Seorang berkebangsaan Prancis yang bernama Pierre Plantard mendirikan sebuah kelompok sosial yang kecil pada tahun 1954 yang ia beri nama The Priory of Sion. Tujuan dari organisasi ini adalah mengusahakan perumahan yang murah di negara Prancis. Tahun 1957 organisasi ini bubar, tetapi namanya tetap disangkutpautkan dengan Plantard. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Plantard mengumpulkan dokumen-dokumen yang “membuktikan” teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena, yang dipercaya sebagai cikal-bakal keturunan raja-raja Prancis yang disebut dinasti Merovingian. Plantard sendiri mengklaim bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Yesus-Maria Magdalena. Untuk menyukseskan pendirian monarki Prancis, ia merekrut sejumlah pengikut dan mempopulerkan teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena dengan cara meletakkan perkamen-perkamen itu di Bibliotheque Nationale. Beberapa waktu setelah itu, salah seorang sahabat president Prancis terlibat dalam masalah hukum dan Plantard dipanggil untuk memberikan kesaksian terkait dengan Les Dossiers Secrets. Di bawah sumpah ketika dia ditanya di pengadilan ia mengakui bahwa ia mengarang semua cerita dalam dokumen tersebut. Temannya juga menegaskan pengakuan ini. Semua ini telah dicatat dalam banyak buku di Prancis (lihat James Garlow and Peter Jones, Cracking Da Vinci's Code, hlm. 112).


Penjelasan di atas menunjukkan bahwa organisasi The Priory of Sion memang pernah ada, tetapi bukan seperti yang digambarkan dalam DVC. Tidak ada rahasia besar yang diteruskan oleh organisasi ini. Dengan demikian, keterangan tentang keanggotaan Da Vinci dalam organisasi ini juga fiktif, sehingga yang namanya “Da Vinci Code” juga tidak pernah ada.


Kode dalam karya Da Vinci


Inti lain dari DVC adalah keyakinan Brown bahwa Da Vinci menyimpan kode-kode tertentu dalam beberapa karyanya yang mengarah pada pernikahan Yesus-Maria Magdalena. Ia juga mengutip “pernyataan Da Vinci” yang terkesan negatif terhadap akurasi Perjanjian Baru maupun tradisi dalam gereja. Benarkah Da Vinci adalah seorang yang radikal dalam hal doktrin (iman)?


Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah konteks jaman Renaissance pada abad ke-15 di mana Da Vinci hidup. Masa ini ditandai dengan timbulnya semangat mempelajari tulisan-tulisan kuno Yunani-Romawi dan cara pandang humanisme. Dua hal ini, ditambah dengan dekadensi moral di kalangan rohaniwan, pada akhirnya menimbulkan sikap negatif terhadap gereja. Da Vinci juga ofensif terhadap gereja, tetapi bukan seperti yang digambarkan Brown. Da Vinci hanya menyerang dekadensi moral dan kemewahan hidup para rohaniwan waktu itu.


Bagaimana dengan tulisan Da Vinci yang menganggap Perjanjian Baru berisi angan-angan dan mujizat palsu yang menipu banyak orang (hlm. 231)? Brown ternyata telah mengutip pernyataan Da Vinci lepas dari konteksnya (out of context). Pernyataan Da Vinci yang dikutip Brown tidak berhubungan dengan Perjanjian Baru sama sekali. Brown hanya mengambil beberapa kata dari pernyataan Da Vinci tentang masalah kimiawi (bahan/zat). Yang dimaksud penipuan oleh Da Vinci adalah pandangan tradisional yang menganggap air raksa adalah benih dari setiap logam.


Hal kedua yang penting untuk dibahas adalah “kode” dalam lukisan Mona Lisa. Brown menyatakan bahwa ada perpaduan (kesejajaran) antara laki-laki dan perempuan dalam lukisan Mona Lisa (hlm. 120). Ia bahkan menyatakan bahwa nama “Mona Lisa” merupakan sebuah anagram yang merujuk pada dewa-dewa kesuburan Mesir kuno yang bernama dewa Amon dan dewi Isis (yang dalam piktograf disebut L’ISA). Dalam hal ini Brown telah melakukan kesalahan yang fatal. Da Vinci tidak pernah memberi nama lukisannya. Tidak heran, beragam orang menyebut lukisan “Mona Lisa” dengan beragam nama. Sebutan “Mona Lisa” sendiri baru muncul dalam buku karangan Giorgio Vasari tahun 1550 yang berjudul The Lives of the Artist. Jadi, nama “Mona Lisa” baru ada sekitar 30 tahun setelah kematian Da Vinci.


Selain itu, teori anagram Brown juga defektif. Dewa Amon (Ammon atau Amun) adalah dewa matahari yang tidak secara khusus berhubungan dengan kesuburan. Pada waktu dewa Amon dihubungkan dengan seorang dewi, ia disandingkan dengan dewi Muth (bukan Isis).


Lukisan lain yang paling penting dan menjadi inti kode Da Vinci adalah The Last Supper. Menurut Brown, figur di sebelah kanan Yesus adalah Maria Magdalena, karena wajahnya tampak feminin. Hal ini dipertegas dengan posisi Yesus dan Maria Magdalena yang membentuk huruf “V” (simbol rahim/wanita). Petrus sendiri digambarkan seperti sedang mengancam Maria Magdalena dengan posisi tangannya yang sedang memegang pisau di dekat leher Maria Magdalena. Brown juga memberi penekanan pada ketidakadaan cawan perjamuan yang ia percayai dimaksudkan Da Vinci untuk memberitahu bahwa cawan darah perjanjian yang sejati adalah Maria Magdalena.


Tafsiran Brown di atas sangat spekulatif dan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Da Vinci. Hal terpenting yang perlu diketahi adalah bahwa lukisan ini tidak berbicara tentang perjamuan terakhir ketika Yesus membagikan roti dan anggur sebagai tanda pengorbanannya. Lukisan ini mengisahkan momen ketika Yesus memberitahu siapa yang akan mengkhianati Dia (Yoh 13:21-24). Hal ini didukung oleh beberapa bukti: (1) semua murid saling menanyakan satu kepada yang lain; (2) Petrus menanyai seorang murid yang duduk di sebelah kanan Yesus. Karena momen yang dicatat adalah perjamuan terakhir versi Yohanes, maka tidak ada catatan tentang cawan, karena dalam Yohanes 13 Yesus memang tidak membagikan roti dan anggur.


Tafsiran di atas sekaligus bisa menjelaskan posisi Yesus dan figur yang ada di sebelah kanannya (menurut Yohanes 13:23 figur ini adalah Yohanes). Posisi Yohanes (atau Maria Magdalena menurut Brown) yang agak condong ke kanan berguna untuk menunjukkan sebuah harmoni, yaitu murid-murid dikelompokkan ke dalam 4 grup masing-masing terdiri dari 3 orang. Selain itu, posisi ini juga penting untuk menampilkan Yesus sebagai pusat dari lukisan ini. Yesus berada di tengah dan tampak sendirian (terpisah) dari empat kelompok murid yang ada.


Sehubungan dengan identitas figur di sebelah kanan Yesus, dia pasti salah seorang dari 12 murid. Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa pada saat perjamuan terakhir 12 murid bersama dengan Yesus, baru setelah itu Yudas pergi meninggalkan mereka (Yoh 13:27-30). Seandainya figur itu adalah Maria Magdalena, hal ini akan meninggalkan sebuah pertanyaan tentang siapa di antara 12 murid yang tidak hadir pada waktu momen penting tersebut.


Tentang figur Yohanes yang tampak feminin, hal ini harus dipahami dalam konteks jaman Renaissance. Orang-orang pada jaman itu terbiasa menggambarkan figur “murid yang ideal” dengan wajah yang tampak sangat muda, rambut yang panjang dan wajah yang bersih dari kumis dan jenggot. Gambaran ini berguna untuk menunjukkan bahwa seorang murid masih belum berpengalaman dan perlu terus bersama dengan gurunya. Tidak heran, wajah Yohanes dalam beberapa lukisan jaman Renaissance juga memiliki penampilan yang hampir sama dengan yang ada di lukisan The Last Supper. Gambaran tentang murid yang ideal untuk Yohanes sangat sesuai dengan karakter Yohanes di Injil Yohanes. Ia disebut dengan “murid yang dikasihi Tuhan” dan paling cepat memahami sesuatu (Yoh 20:2, 4, 8; 21:7, 20).


Maria Magdalena di luar Alkitab


Figur Maria Magdalena memiliki peranan sangat sentral dalam DVC. Secara umum dapat dikatakan bahwa misteri yang ingin diungkap dalam DVC berpusat pada Maria Magdalena (dan Yesus). Gambaran “baru” tentang Maria Magdalena dalam DVC berhubungan dengan pemunculan Maria Magdalena dalam tulisan bapa gereja dan naskah-naskah kuno yang beraliran Gnostik.


Datum pertama terdapat dalam tulisan bapa gereja Hippolytus, abad ke-3, dalam tafsiran Kidung Agung 24-26. Ia menulis “supaya rasul-rasul wanita tidak meragukan malaikat-malaikat, Kristus sendiri datang kepada mereka supaya mereka menjadi rasul-rasul Kristus dan dengan ketaatan mereka memperbaiki dosa Hawa yang dulu...Kristus datang kepada rasul-rasul laki-laki dan berkata kepada mereka:...’Akulah yang menampakkan diri kepada wanita-wanita ini dan Akulah yang mengirim mereka kepadamu sebagai rasul [dari para rasul]’”.


Teks berikutnya yang penting adalah Injil Filipus 63:32-64:10. Bagian yang paling kontroversial terdapat dalam pasal 63:33-36 “dan teman/istri dari [....] Maria Magdalena. [...mengasihi] dia lebih daripada [semua] murid dan [terbiasa] mencium dia [sering] pada [...]nya”. Tanda kurung di atas menunjukkan bagian yang hilang dari naskah kuno yang ditemukan, sehingga menimbulkan spekulasi beragam dari para sarjana. Berdasarkan konteks bagian ini, konteks Injil Filipus secara umum (terutama pasal 58-59) dan ukuran bagian yang hilang para sarjana mencoba merekonstruksi kata apa yang telah hilang. Mereka umumnya merekonstruksi seluruh teks di atas sebagai berikut : “dan teman (istri) dari Juru Selamat Maria Magdalena mengasihi dia lebih daripada semua murid yang lain dan terbiasa mencium dia sering pada mulutnya”. Rekonstruksi seperti ini dianggap menyiratkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.


Teks terakhir berasal dari kitab yang ditulis pada abad ke-2, yang bernama Injil Maria Magdalena. Bagian yang sangat kontroversial adalah Injil Maria 17:10-18:21 yang berbunyi sebagai berikut : “Tetapi Andreas menjawab dan berkata kepada saudara-saudara, “katakan apa yang ingin kalian katakan tentang apa yang telah ia (Maria Magdalena) katakan. Aku setidaknya tidak percaya kalau Juru Selamat mengatakan seperti itu, karena ajaran-ajaran itu jelas merupakan hal yang aneh”. Petrus menjawab dan mengatakan hal yang sama. Ia menanyakan mereka tentang Juru Selamat: “apakah Ia sungguh-sungguh berbicara dengan seorang wanita tanpa pengetahuan kita dan tidak secara publik? Akankah kita berpaling dan semua mendengarkan dia (Maria Magdalena)? Apakah Ia lebih memilih dia daripada kita?” Lalu Maria meratap dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau pikirkan? Apakah engkau berpikir bahwa aku sendiri telah memikirkan hal ini atau aku sedang berdusta tentang Juru Selamat?” Lewi menjawab dan berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu temperamental. Sekarang aku melihat engkau menentang seorang wanita seperti musuh. Tetapi jika Juru Selamat membuat dia layak, akankah engkau sungguh-sungguh menolaknya? Juru Selamat tentu mengenal dia sangat baik. Itulah sebabnya Ia mengasihi dia lebih daripada kita. Sebaliknya, biarlah kita malu dan memakai Manusia sempurna, berpisah sebagaimana Ia memerintahkan kita dan memberitakan Injil, tidak meletakkan hukum atau peraturan lain selain apa yang Juru Selamat katakan”.


Sebelum membahas teks-teks tersebut secara detil, ada beberapa penjelasan dalam DVC yang perlu ditambahkan sehubungan dengan isu kepemimpinan Maria Magdalena. Brown menganggap sumber kuno di atas sebagai bukti atau dasar untuk mengetahui hubungan Yesus dan Maria Magdalena yang sebenarnya. Kanonisasi yang dilakukan gereja pada abad ke-4 (setelah gereja memiliki kekuatan karena dijadikan agama negara) merupakan cara untuk menyingkirkan “sumber-sumber terpercaya” ini dan untuk memberi legitimasi pada kitab-kitab yang sejalan dengan ajaran gereja. Usaha ini selanjutnya didukung oleh berbagai konsili (terutama Konsili Nicea, tahun 325) yang menghasilkan kredo yang menampilkan keilahian Yesus.


Bagaimana meresponi catatan-catatan kuno di atas? Pertama, tentang catatan Hippolytus. Untuk memperjelas masalah, perlu diketahui bahwa frase “rasul dari para rasul” tidak ada dalam tulisan Hippolytus. Tambahan “dari para rasul” baru muncul pada abad ke-10. Hippolytus memang menyebut Maria Magdalena sebagai rasul wanita. Hal ini sesuai dengan catatan kitab-kitab Injil yang menceritakan tentang penampakan diri Yesus kepada Maria Magdalena dan pengutusan Yesus supaya Maria Magdalena pergi kepada para murid (band. Yoh 20:17). Dari sini terlihat bahwa sebelum Konsili Nicea, gereja mula-mula dan bapa-bapa gereja dari kalangan ortodoks tetap mengakui posisi Maria Magdalena sebagai rasul.


Apakah hal itu berarti pandangan Brown benar? Perlu diperhatikan, kutipan Hippolytus tidak berbicara secara khusus tentang Maria Magdalena. Bentuk jamak yang dikenakan pada rasul-rasul wanita dalam kutipan ini menunjukkan bahwa Hippolytus memikirkan perempuan-perempuan lain juga sebagai rasul. Namun, apakah maksud istilah “rasul” di sini? Dalam Perjanjian Baru, kata rasul (apostolos) bisa merujuk pada tiga kelompok: 12 murid (Mat 10:2//Luk 6:13), orang-orang tertentu yang memegang kepempinan dalam gereja secara resmi (misalnya Paulus dan Barnabas, Kis 14:14; Rom 1:1) dan orang-orang Kristen secara umum yang memberitakan Injil (1Kor 9:5-6; 2Kor 8:3, 23; Flp 2:25). Dari konteks kutipan Hippolytus terlihat bahwa “rasul-rasul wanita” adalah mereka yang melihat peristiwa kebangkitan dan diutus memberitakan kabar baik. Jadi, “rasul” di sini tidak berhubungan dengan posisi formal kepemimpinan dalam gereja. Seandainya ini diterima, maka tidak ada yang istimewa dalam kutipan Hippolytus, karena Perjanjian Baru juga menyebut beberapa wanita sebagai rasul maupun nabi, misalnya Yunias (Rom 16:7), anak-anak Filipus (Kis 21:9).


Kedua, tentang Injil Filipus. Ada beberapa hal yang memicu perdebatan para sarjana. Yang terutama adalah arti kata koinonos dalam frase “teman/istri dari [Juru Selamat]”. Kata “koinonos” bisa berarti teman atau istri. Berdasarkan pemakaian kata ini dalam literatur Yunani, koinonos sebaiknya dipahami sebagai teman. Seandainya yang dimaksud adalah “istri”, maka penulis Injil Filipus pasti akan memakai kata yang lebih umum, yaitu “gunh”.


Hal lain yang perlu dibahas adalah ciuman Yesus kepada Maria Magdalena. Kita perlu memahami bahwa tulisan-tulisan Gnostik penuh dengan simbol. Maria Magdalena sendiri dalam Injil Filipus digambarkan sebagai Sang Hikmat, ibu dari para malaikat dan saudara perempuan dari Juru Selamat. Berdasarkan pemahaman tentang genre dan teologi Gnostik ini, kita sebaiknya memahami ciuman Yesus “di bibir” (seandainya kata yang hilang memang demikian) dalam kitab ini secara simbolis, yaitu penerusan firman. Hal ini bisa dipahami karena figur Maria Magdalena sebagai Sang Hikmat. Kasih Yesus kepada Maria Magdalena yang melebihi murid-murid lain bisa dimengerti dengan mudah apabila dikaitkan dengan posisi Maria Magdalena secara mistis dalam tulisan Gnostik.


Ketiga, tentang Injil Maria Magdalena. Sebagaimana dalam tulisan Gnostik lainnya, kitab ini juga memiliki ungkapan-ungkapan yang simbolis dan misterius. Tidak terkecuali Injil Maria Magdalena 17:10-18:21. Teks ini menggambarkan pertentangan antara aliran ortodoks (diwakili oleh Petrus) dan aliran minoritas lain (diwakili tokoh wanita Maria Magdalena). Pertentangan ini juga hanya berhubungan dengan wahyu Allah, bukan jabatan gerejawi. Kaum Gnostik menganggap diri sebagai penerima pengetahuan yang rahasia dari Kristus, sedangkan pengetahuan ini bertentangan dengan ajaran gereja pada umumnya. Jadi, teks ini sama sekali tidak membicarakan tentang perebutan posisi kepemimpinan dalam gereja.

Lihat Part.3

Kemerdekaan Kristen

Kemerdekaan yang sungguh-sungguh hanyalah ada di dalam Kristus. Ini yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini. Kesadaran akan hal inilah yang memampukan kita untuk berdiri teguh dan menolak untuk dikenakan kuk perhambaan oleh dosa (5:1). Sebelum diselamatkan kita mengenakan kuk perhambaan. Setelah percaya Yesus kita mengenakan kuk Kristus (Matius 11:28-30). Kuk perhambaan dosa itu keras dan bebannya berat, sebaliknya kuk Kristus itu enak dan bebannya ringan. Kuk Kristuslah yang memerdekakan kita untuk mampu melakukan kehendak-Nya; sedangkan kuk dosa memperhamba dan memperbudak kita. Para penganut legalisme mengenakan kuk perhambaan, tetapi orang Kristen sejati yang menyandarkan diri pada kasih karunia Allah mengenakan kuk Kristus yang memerdekakan. Salah satu tanda yang penting dari orang yang mengalami kemerdekaan Kristen adalah tidak mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa (5:13).
Di saat kita memperingati proklamasi kemerdekaan negara kita yang jatuh pada hari ini, kita perlu merefleksi sejenak apakah kita sungguh-sungguh sudah mengalami kemerdekaan Kristen yang sejati? Bila kita ingin sungguh-sungguh hidup merdeka, kita harus sepenuh-penuhnya menyerahkan diri kita kepada Kristus dan rela mengenakan kuk Kristus yang enak dan ringan yang menenangkan jiwa. Hanya dengan cara itulah kita sungguh-sungguh menjadi orang yang merdeka yang bebas dari kuk perhambaan yang memperbudak kita. [JS]
Galatia 5:1
""Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan."

DEKODENISASI "THE DA VINCI CODE" (Part 1)


Yakub Tri Handoko, Th. M

Novel The Da Vinci Code (selanjutnya disingkat DVC) karangan Dan Brown mampu menarik perhatian dunia sejak pertama kali dirilis pada tahun 2003. Hal ini bisa dilihat dari jumlah eksemplar yang mencapai 30 juta di seluruh dunia dan diterjemahkan dalam 44 bahasa. Seiring dengan keberhasilan ini, Dan Brown juga turut menikmati kekayaan dan popularitas luar biasa. Royalti ia terima mencapai 650 miliar rupiah. Ia berulang kali diundang untuk wawancara di berbagai stasiun TV terkenal, misalnya ABC, NBC. Puncak dari semua ini adalah peluncuran film dengan judul yang sama. Walaupun apa yang disampaikan lewat film “tidak seberbahaya” apa yang ada di novel, namun bagaimanapun film tersebut mampu menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang enggan membaca novel Brown, karena mereka memang tidak terbiasa membaca.


Beragam respon dari orang Kristen di Indonesia telah bermunculan. Sebagian sudah mengadakan protes damai (demo) menentang pemutaran film DVC. Sebagian yang lain cenderung menganggap remeh isu ini dan mengatakan “itu hanya sekedar novel, tidak perlu dipikirkan terlalu serius”. Dua sikap ini sebenarnya kurang tepat. Protes saja, tanpa disertai pembinaan teologi kepada jemaat, bisa berpotensi meneguhkan asumsi Brown bahwa ada konspirasi internasional untuk menghancurkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran tradisional kekristenan. Sikap menganggap remeh juga tidak tepat, karena faktanya DVC bukan sekedar novel. Pengaruh DVC bagi pergumulan iman orang Kristen awam tidak bisa dipandang sebelah mata.


Bagaimana orang Kristen seharusnya meresponi hal ini? 1 Petrus 3:15 mengajarkan bahwa orang percaya harus siap sedia memberikan jawaban verbal (apologia) terhadap siapa saja yang mempertanyakan iman Kristiani. Ide yang dituangkan dalam DVC merupakan pertanyaan (baca: bantahan) terhadap kekristenan yang harus dijawab dengan penuh tanggung jawab. Tulisan ini merupakan apologia dari sudut pandang kaum Injili terhadap DVC.


Sinopsis cerita


DVC dimulai dengan kematian seorang kurator bernama Jacques Sauniere. Sebelum ia mati, ia meninggalkan kode-kode khusus untuk cucu perempuannya, Sophie Neveu, seorang kriptologis, yang sebelumnya ia telepon untuk datang mengunjungi dirinya, berdamai dengan dia dan diberitahu suatu rahasia keluarga. Sophie sendiri dulu sempat berselisih dengan Sauniere karena ia melihat kakeknya dan seorang wanita sedang melakukan hubungan seks dalam sebuah acara ritual tertentu dengan disaksikan para pengikut sekte tersebut.


Kode yang ditinggalkan Sauniere meliputi posisi tubuh yang menyerupai lukisan The Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci dan kode-kode lain yang berbentuk angka-angka, anagram maupun pentagram yang dia lukis di tubuhnya menggunakan darahnya sendiri. Berdasarkan kode-kode ini Sophie, yang didampingi ahli simbol keagamaan dari Harvard bernama Robert Langdon, berusaha untuk menguak kode demi kode yang ditinggalkan Sauniere.


Usaha dekodenisasi terhadap beberapa lukisan Da Vinci, dokumen Les Dossiers Secrets, kitab-kitab injil non-kanonik dan berbagai simbol lain akhirnya berujung pada penemuan beberapa hal yang sangat mengejutkan. Sauniere ternyata pemimpin organisasi The Priory of Sion, yang dahulu juga memiliki anggota beberapa tokoh terkenal, termasuk di dalamnya Leonardo Da Vinci. The Priory of Sion merupakan sebuah sekte keagamaan yang berkomitmen untuk menjaga sebuah rahasia besar. Rahasia itu berhubungan dengan pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena dan penunjukan Maria Magdalena sebagai pemimpin gereja oleh Yesus. Para rasul lain, yang semuanya adalah laki-laki, menjadi cemburu melihat hal itu. Mereka akhirnya berusaha memusnahkan rahasia ini. Maria Magdalena dan keturunannya akhirnya terpaksa mengungsi ke Prancis demi keselamatan mereka, mendirikan kota Paris dan menjadi cikal-bakal keturunan bangsawan Prancis yang disebut Merovingian. The Priory of Sion terus-menerus berusaha menjaga rahasia ini. The Kngiht Templar, sebuah organisasi tentara pada jaman Perang Salib, merupakan salah satu pelindung rahasia ini. Berdasarkan keyakinan tersebut, ritual seks dalam sekte The Priory of Sion telah menjadi aktivitas wajib untuk meneruskan darah (keturunan) Yesus dan Maria Magdaena.


Di sisi lain, pihak gereja tradisional yang didominasi kepemimpinan pria berusaha menekan pengaruh Maria Magdalena dan memusnahkan rahasia tersebut. Pada awal abad ke-4 gereja menegaskan doktrin keilahian Yesus yang sebetulnya hanyalah manusia biasa yang juga menikah seperti orang Yahudi yang saleh lainnya. Gereja dipercaya telah menghancurkan berbagai tulisan Kristen kuno lain yang tidak sesuai dengan ajaran gereja tradisional melalui proses kanonisasi pada abad ke-4. Semua langkah ini bisa dilakukan gereja karena pada abad ke-4 gereja telah menjelma menjadi kekuatan mayoritas seiring dengan keputusan Kaisar Konstantinopel untuk menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi negara. Dalam periode selanjutnya, gereja tetap berusaha menghapus rahasia pernikahan Yesus dan Maria Magdalena melalui sekte Opus Dei. Pemusnahan ini terus berlanjut sampai kematian Sauniere. Jadi, tindakan Sauniere yang menelepon Sophie sebelum kematiannya merupakan upaya The Priory of Sion untuk tetap meneruskan rahasia tersebut dan meminta Sophie supaya melanjutkan keturunan Yesus-Maria Magdalena.


Apakah DVC hanya sebuah novel?


Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa Brown tidak melihat novelnya hanya sebagai novel fiksi semata. Ia tampaknya ingin menunjukkan bahwa DVC adalah sebuah novel sejarah (historical novel). Sebagai sebuah novel sejarah, DVC menyiratkan fakta-fakta tertentu. Kenyataannya, novel ini belum layak dikategorikan sebagai novel sejarah. Apa yang dianggap fakta oleh Brown tidak lebih dari sekedar interpretasi Brown terhadap beberapa data. Hal ini jelas bisa berpotensi mengelabui dan membohongi harapan pembaca yang sejak awal melihat DVC sebagai sebuah novel sejarah. Apa saja yang menyebabkan pembaca mendapat kesan bahwa DVC adalah sebuah novel sejarah?


Pertama, pada bagian kata pengantar Brown mengucapkan terima kasih kepada sejumlah institusi ternama yang telah membantu dia dalam melakukan riset sebelum penulisan DVC (hlm 2), yaitu Louvre Museum, the French Ministry of Culture, Project Guttenberg, Bibliotheque Nationale, the Gnostic Society Library, the Department of Paintings Study and Documentation Service at the Louvre, Catholic World News, Royal Observatory Greenwich, London Record Society, the Muniment Collection at Westminster Abbey, John Pike, and the Federation of American Scientists. Ia bahkan secara khusus mengucapkan terima kasih kepada 5 (lima) anggota Opus Dei (3 di antaranya masih aktif) yang bersedia menjadi nara sumber yang menceritakan pengalaman mereka di dalam Opus Dei, baik yang positif maupun yang negatif. Hal ini tentu saja akan memberikan kesan bahwa apa yang ditulis dalam DVC merupakan hasil riset yang bertanggung jawab.


Kedua, setelah bagian kata pengantar, Brown menggunakan satu halaman khusus untuk menyatakan 3 (tiga) “fakta” dalam novelnya (hlm 3). Apa saja yang diklaim sebagai “fakta” dalam DVC? (1) The Priory of Sion. Pada tahun 1975 Paris’s Bibliotheque Nationale menemukan perkamen yang dikenal dengan nama Les Dossiers Secrets, yang menunjukkan beberapa anggota The Priory of Sion, misalnya Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo dan Leonardo Da Vinci. (2) Opus Dei. Organisasi kaum rohaniwan ini merupakan kumpulan sekte Katholik yang sangat loyal. Opus Dei telah menjadi topik kontroversi sehubungan dengan pencucian otak, pemaksaan dan penyiksaan diri (corporal mortification) yang berbahaya. (3) Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen dan ritual-ritual rahasia.


Ketiga, dalam wawancara dengan beberapa stasiun televisi ternama, Brown menegaskan “kebenaran” dari apa yang ia tulis. Pada waktu ia ditanya oleh Matt Lauer dari NBC tentang seberapa banyak bagian DVC yang bisa disebut realita dalam arti benar-benar terjadi, Brown menjawab “Absolutely all of it. Obviously, Robert Langdon is fictional, but all of the art, architecture, secret rituals, secret societies; all of that is historical fact” (Semuanya. Robert Langdon memang fiktif, tetapi semua karya seni, arsitektur, ritual-rahasia, organisasi rahasia, semua itu fakta sejarah”).


Keempat, tokoh-tokoh fiktif dalam DVC yang membuka kode rahasia ditampilkan Brown sebagai figur yang ilmiah, sehingga menimbulkan kesan apa yang mereka sampaikan berhubungan dengan “kebenaran objektif”. Robert Langdon diperkenalkan sebagai profesor dari Harvard dalam bidang simbol keagamaan (religious symbology), walaupun sebenarnya tidak ada disiplin ilmu tersebut di Harvard. Sophie merupakan ahli kode rahasia (cryptologist). Pembaca juga akan bertemu figur Profesor Teabing yang “sangat mahir” dalam sejarah dan berbagai dokumen kuno.


Strategi penulisan di atas ingin memberikan pesan kepada pembaca bahwa apa yang ditulis dalam DVC benar-benar merupakan fakta. Seberapa banyak “kebenaran” yang diharapkan bisa ditangkap dan diterima oleh para pembaca? Melebihi harapan seseorang ketika ia membaca sebuah novel sejarah! Sayangnya, sebagaimana akan tampak dalam bagian selanjutnya dari tulisan ini, untuk dikategorikan sebagai novel sejarah pun DVC sebenarnya belum layak (apalagi sebagai “buku ilmiah” seperti yang dianggap oleh banyak orang). Jelas, DVC bukanlah sekedar novel. Tidak heran, banyak pembaca DVC mengalami kegoncangan iman yang luar biasa (lihat www.salon.com dan www.danbrown.com). Para peninjau seni pun tidak luput dari pengaruh DVC, misalnya USA Today dan Counterculture.


Tidak ada yang baru di bawah matahari


Nasehat Salomo bahwa “tidak ada yang baru di bawah matahari” (Pkh. 1:9) tampaknya berlaku untuk kasus DVC. Brown tidak menulis dalam kevakuman. DVC hanyalah salah satu dari sekian banyak produk yang berasal dari presuposisi tentang konspirasi internasional yang dilakukan pihak gereja untuk menyeragamkan teologi mereka yang sebenarnya tidak didasarkan pada fakta. Meminjam ungkapan yang lebih akademis, DVC merupakan salah satu versi dari pembedaan antara The Historical Jesus (Yesus yang ada dalam sejarah) dan The Christ of Faith (Yesus yang dipahami oleh gereja mula-mula). Spirit jaman seperti ini sudah mulai muncul pada jaman pencerahan (enlightenment) pada sekitar abad ke-17. Dengan pendekatan filosofis yang antisupranaturalis dan pra-anggapan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah, orang berusaha menginterpretasikan ulang kebenaran Alkitab. Gambaran tentang Yesus yang ada di Perjanjian Baru dan berbagai pengakuan iman (kredo) kuno dianggap sebagai hasil rekayasa gereja. Yesus yang dipercayai oleh gereja dipercayai sangat berbeda dengan Yesus yang ada di dalam sejarah.


Dalam konteks akademis, usaha menampilkan Yesus yang berbeda dengan Yesus dalam Perjanjian Baru dan kredo mulai dipopulerkan oleh Herman S. Reimarus (1694-1768). Selanjutnya, mayoritas teolog di Jerman mengadopsi cara pandang yang mirip dengan ini, misalnya William Wrede, Rudolf Bultmann, E. Kasëman, G. Bornkamm, Barbara Thiering. Salah satu hasil diskusi dalam taraf akademis yang perlu diwaspadai adalah Jesus Seminar yang dipelopori oleh Robert W. Funk, Marcus Borg dan John Dominic Crossan. Mereka berusaha membawa hasil diskusi akademis ini ke dalam domain publik melalui penerbitan The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? dan wawancara di berbagai stasiun televisi. Dalam The Five Gospels mereka memberikan warna berbeda untuk setiap ucapan Yesus di kitab-kitab Injil plus Injil Thomas untuk menjelaskan perkataan mana yang bisa ditelusuri sebagai berasal dari Yesus sendiri dan mana yang hasil karangan para penulis Alkitab.


Dalam konteks yang lebih populer, kekristenan sempat digemparkan oleh penerbitan novel Holy Blood Holy Grail (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln), The Last Temptation of Christ (Nikos Kazantzakis), The Woman Wth the Alabaster Jar (Margaret Starbird), The Templar Revolution (Lynn Picknett dan Clive Prince). Cara pandang yang sama juga bisa disimak dalam beberapa film, misalnya Jesus Christ Superstar, The Last Temptation of Christ, The Body, Jesus in the Himalaya, Who is the Real Mary Magdalene.


Penjelasan dalam bagian ini berguna untuk melihat DVC dalam konteks yang lebih komprehensif. Analisa kritis terhadap DVC seharusnya dimulai dari konteks ini. Dengan kata lain, diskusi tentang DVC seharusnya mencakup kredibilitas historis kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai buku kuno, validitas pembedaan antara The Historical Jesus dan The Christ of Faith, nilai kitab-kitab non-kanonik, dsb. Setelah membahas hal-hal ini, fokus selanjutnya diarahkan pada analisa detil terhadap DVC yang berkaitan dengan faktualitas beberapa organisasi/sekte (The Priory of Sion, The Knight Templar, Opus Dei), simbol-simbol kuno (anagram, pentagram), lukisan Da Vinci (Monalisa, The Last Supper), dokumen-dokumen Gnostik kuno (Injil Filipus dan Injil Maria), sejarah gereja abad permulaan (seputar kanonisasi dan kredo), “pernikahan” Yesus, dst.


Proses analisa di atas jelas membutuhkan waktu yang panjang dan pengetahuan akademis yang memadai. Dalam tulisan ini analisa akan langsung difokuskan pada DVC. Ini pun tidak akan membahas secara khusus tentang simbol-simbol kuno yang dipakai dalam DVC. Tulisan ini diharapkan berhasil memberikan pemahaman yang agak komprehensif tentang DVC dari sisi historis, seni maupun biblikal.

"APAKAH ALLAH TELAH KEHABISAN ENERGI & TIDAK BERDAYA LAGI?"

Sebuah Tanggapan Teologis Terhadap Tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo.

By. Esra Alfred Soru



Pada bulan Desember yang lalu (Desember 2011), saya mendapat pesan via Facebook oleh seorang teman yang menyarankan saya untuk membaca tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo yang dimuat di koran Pos Kupang yang menurutnya aneh karena tulisan itu mengatakan bahwa setelah menciptakan alam semesta, Allah menjadi kehilangan kemuliaan-Nya. Sayang sekali saya tidak berhasil mendapatkan koran tersebut. Tetapi beberapa waktu yang lalu (akhir Januari 2012) saya mendapatkan sebuah SMS dari seorang di Rote yang menanyakan pendapat saya tentang tulisan Pdt. Dr. Eben Nuban Timo dalam buku Renungan Harian “Tunas Dari Tanah Kering” di mana beliau mengatakan setelah selesai menciptakan dunia ini, Allah kehilangan energi-Nya. Saya tidak dapat memberikan jawaban atau pendapat saya karena saya sama sekali belum membaca tulisan tersebut, baik di koran Pos Kupang maupun dalam buku “Tunas Dari Tanah Kering” itu. Tetapi puji Tuhan pada pada tanggal 1 Februari seorang jemaat membawa buku tersebut dan memberikannya pada saya. Saya lalu membaca tulisan Dr. Eben Nuban Timo itu dan benar seperti kata teman saya di Facebook maupun orang dari Rote itu bahwa beliau mengatakan kalau setelah menciptakan dunia ini, Allah menjadi kehilangan kemuliaan-Nya dan bahkan kehabisan energi. Ia menjadi kosong dan miskin dan tidak berdaya apa-apa lagi. Saya lalu memutuskan untuk menulis tanggapan terhadap tulisan Dr. Eben Nuban Timo ini.


I. TULISAN DR. EBEN NUBAN TIMO.

Berikut ini adalah tulisan Dr. Eben Nuban Timo yang akan kita bahas sebagaimana dimuat di Koran Pos Kupang (Desember 2012) dan dalam buku Renungan Harian “TUNAS DARI TANAH KERING” (Edisi I/V/2012) – Januari – Februari 2012, hal. 27-30.


ALLAH MENCIPTAKAN =
ALLAH MENGOSONGKAN DIRI


Tahukah saudara-saudara dari bahan dasar apakah Tuhan Allah menciptakan langit dan bumi? Gereja mengajarkan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi tanpa bahan dasar apa pun. Allah menciptakan dari ketiadaan. Ungkapan Latin untuk itu adalah “creatio ex nihilo”. Pendapat ini benar, setidak-tidaknya jika yang dimaksudkan adalah bahan dasar yang berasal dari luar diri Allah.

Tetapi dalam bahasa Latin ada lagi suatu ungkapan lain yang berbunyi “ex nihilo nihil fit”, yang artinya dari ketiadaan tidak mungkin ada yang terjadi atau tercipta. Bagaimana mungkin ada sesuatu di samping Allah yang bernama penciptaan jika tidak ada bahan dasar apa pun untuk membentuk ciptaan?

Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian tentang proses penciptaan langit dan bumi oleh Allah, menjadi jelas bahwa Allahmemang menciptakan langit dan bumi sebagai kenyataan ciptaan, maka bahan baku untuk itu diambil Allah dari diri Allah sendiri. Alkitab menunjukkan bahwa Roh dan Firman adalah bahan baku sekaligus daya kreatif yang diambil Allah dari diri-Nya untuk memproses keberadaan langit dan bumi.

Bumi sebagaimana dihadapi Allah pada saat penciptaan, seperti ditegaskan dalam Kej 1:2 belum berbentuk dan kosong. Berhadapan dengan bumi yang kosong, Allah memberikan atau mengeluarkan sesuatu dari dalam diri-Nya. Sesuatu itu bergerak keluar dari Allah. Firman yang keluar dari mulut Allah itu tidak pergi begitu saja dan lenyap dalam kekosongan atau hampaan tetapi firman itu berubah wujud menjadi terang yang mengusir kegelapan. Allah melihat proses metamorfosa dari firman menjadi terang itu baik, maka Allah mengulang hal yang sama berhadapan dengan air yang menutupi bumi. Allah berfirman dan firman itu berubah menjadi cakrawala. Firman yang bermetamorfosa dalam wujud yang baru itu mengisi kekosongan langit dan menghiasi wajah bumi.

Proses yang sama dilakukan terus menerus oleh Allah dari hari pertama sampai hari keenam, firman berubah menjadi pohon, menjadi tumbuh-tumbuhan, menjadi burung-burung, menjadi aneka jenis ikan, berbagai macam species binatang di darat. Pada hari yang keenam Allah tidak hanya memberikan firman-Nya untuk berubah wujud menjadi manusia. Allah juga memberikan gambar diri-Nya sendiri supaya manusia yang berwujud dari firman itu menjadi serupa dengan Allah.

Setiap kali Allah berfirman, jadilah sesuatu. Itu memiliki empat arti. Pertama, sesuatu yang tercipta itu berhutang eksistensi kepada Sang firman. Kedua, di dalam aneka jenis ciptaan itu terdeteksi jejak-jejak Sang firman. Ketiga, bumi yang kosong dan tidak berpenghuni itu sekarang berpenghuni. Itu terjadi karena Allah yang semula mengisi dan memenuhi segala sesuatu berkenan untuk memberi ruang bagi adanya sesuatu yang lain. Cara yang diambil Allah ialah dengan mengosongkan diri, membuat diri-Nya makin berkurang.

Dalam karya penciptaan Allah menjalani suatu proses kenosis (pengosongan diri) yang radikal. Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi terang, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia. Kita bisa katakan bahwa firman mengisi semua kekosongan bumi dalam berbagai-bagai wujud dan bentuk tanah, batu, pohon, air, binatang-binatang dan manusia.

Keempat, terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman pada saat yang sama berarti Allah yang tadinya penuh dengan segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu menjadi makin berkurang dan kosong. Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan.

Informasi tentang asal-usul penciptaan sebagaimana kita dengar dari Allah Sang Pencipta sangat mengejutkan kita, yakni Allah memberikan segala sesuatu dari diri-Nya, Ia membagi-bagikan hidup-Nya, Ia tidak ingin terus menerus memenuhi segala-galanya. Dalam penciptaan, Allah tidak hanya memisahkan kenyataan ciptaan dan menaruh batas-batas pada kenyataan yang dipisahkan itu. Allah sudah memisahkan sesuatu dari diri-Nya dan menaruh batas pada diri-Nya supaya ada sesuatu yang lain dan ada ruang yang lain itu untuk hidup. Allah menarik diri untuk memberi ruang bagi keberadaan ciptaan.

Dengan cara itu ada tempat bagi yang lain untuk hidup di samping Allah. Bahkan bahan dasar untuk menjadikan keberadaan yang lain itu juga berasal dari Allah. Dunia yang kosong, tandus, mandul makin penuh dengan kemuliaan dan kebesaran Allah, tetapi pada saat yang sama Allah yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran menjadi kosong dan miskin. Ia yang tadinya memiliki segala hal menjadi tidak lagi memiliki apa-apa.

Ini suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan. Allah sungguh kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya. Dalam keadaan yang tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena telah membagi-bagikan semua yang ada pada-Nya sebagai bahan baku untuk membentuk ciptaan, Allah mengundurkan diri untuk masuk dalam sabat. Penarikan diri Allah sekarang menjadi penuh pada hari ketujuh. Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu.

Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa. Hari sabat itu, seperti yang disaksikan Alkitab sudah tiba dan sedang berlangsung tetapi hari sabat itu belum selesai. Kenyataan ini diartikulasikan oleh penulsi kisah penciptaan dengan membiarkan hari sabat tetap terbuka. Penulis kitab Kejadian sama sekali tidak mengatakan kalimat : “Jadilah petang jadilah pagi” yang diulang-ulang dari hari pertama sampai hari keenam untuk dikenakan pada hari ketujuh. Ini sebuah penegasan bahwa hari sabat itu sudah tiba tetapi belum berakhir.

Hari sabat sudah tiba. Proses kepada pemenuhan perjanjian antara Allah dan manusia sudah mulai dilaksanakan tetapi proses itu belum berakhir. Semua makhluk sedang hidup dalam hari sabat itu. Tugas manusia selama sabat yang masih terus berlangsung itu adalah memimpin seluruh makhluk untuk datang kepada Allah mengembalikan hormat, pujian dan kuasa kepada Allah yang berkenan mengosongkan diri-Nya demi kehidupan ciptaan.

Itulah seharusnya menjadi pekerjaan ciptaan sebagai jawaban atas apa yang sudah Allah kerjakan baginya. Hidup selama hari sabat yang sudah mulai tetapi belum selesai itu adalah selalu datang kepada Allah untuk memberikan kembali kemuliaan, hormat dan kuasa yang menjadi dasar atau bahan baku dari keberadaanya. (ent)

II. INTI AJARAN DR. EBEN NUBAN TIMO.

Dari tulisan Dr. Eben Nuban Timo di atas, kita dapat meringkaskan pandangan / ajarannya dalam 5 point penting :

1. Allah menciptakan dunia dan segala isinya dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari diri-Nya sendiri yakni Firman dan Roh-Nya.

Dr. Eben Nuban Timo : Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan”.

2. Dalam penciptaan, Firman Allah menjelma / bermetamorfosa / berubah menjadi ciptaan-ciptaan.

Dr. Eben Nuban Timo : “Firman yang keluar dari mulut Allah itu tidak pergi begitu saja dan lenyap dalam kekosongan atau hampaan tetapi firman itu berubah wujud menjadi terang yang mengusir kegelapan. Allah melihat proses metamorfosa dari firman menjadi terang itu baik, maka Allah mengulang hal yang sama berhadapan dengan air yang menutupi bumi. Allah berfirman dan firman itu berubah menjadi cakrawala”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Proses yang sama dilakukan terus menerus oleh Allah dari hari pertama sampai hari keenam, firman berubah menjadi pohon, menjadi tumbuh-tumbuhan, menjadi burung-burung, menjadi aneka jenis ikan, berbagai macam species binatang di darat”. Pada hari yang keenam Allah tidak hanya memberikan firman-Nya untuk berubah wujud menjadi manusia. Allah juga memberikan gambar diri-Nya sendiri supaya manusia yang berwujud dari firman itu menjadi serupa dengan Allah.

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi terang, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia”. Kita bisa katakan bahwa firman mengisi semua kekosongan bumi dalam berbagai-bagai wujud dan bentuk tanah, batu, pohon, air, binatang-binatang dan manusia.

3. Akibat dari tindakan penciptaan yang dilakukan-Nya (sebagaimana dikatakan dalam point 2) Allah sendiri menjadi berkurang, miskin, bahkan menjadi kosong.

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah yang semula mengisi dan memenuhi segala sesuatu berkenan untuk memberi ruang bagi adanya sesuatu yang lain. Cara yang diambil Allah ialah dengan mengosongkan diri, membuat diri-Nya makin berkurang”.

Dr. Eben Nuban Timo : “…terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman pada saat yang sama berarti Allah yang tadinya penuh dengan segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu menjadi makin berkurang dan kosong.

Dr. Eben Nuban Timo : “Dunia yang kosong, tandus, mandul makin penuh dengan kemuliaan dan kebesaran Allah, tetapi pada saat yang sama Allah yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran menjadi kosong dan miskin. Ia yang tadinya memiliki segala hal menjadi tidak lagi memiliki apa-apa”.

4. Akibat dari kekosongan yang dialami Allah di mana Ia tidak memiliki apa-apa lagi (sebagaimana point 3), di akhir penciptaan segala sesuatu, Allah lalu menjadi kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya.

Dr. Eben Nuban Timo : “Ini suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan. Allah sungguh kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya.

5. Dalam keadaan yang kosong, miskin, tidak memiliki apa-apa lagi, kehabisan energi dan tak berdaya, Allah tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain mengundurkan diri dan masuk ke dalam sabat di mana di sana Ia menanti manusia agar memimpin segenap ciptaan untuk bisa mengembalikan kemuliaan, kuasa dan kebesaran-Nya yang sudah habis dibagibagikan pada ciptaan-ciptaan itu.

Dr. Eben Nuban Timo : “Dalam keadaan yang tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena telah membagi-bagikan semua yang ada pada-Nya sebagai bahan baku untuk membentuk ciptaan, Allah mengundurkan diri untuk masuk dalam sabat. Penarikan diri Allah sekarang menjadi penuh pada hari ketujuh. Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Tugas manusia selama sabat yang masih terus berlangsung itu adalah memimpin seluruh makhluk untuk datang kepada Allah mengembalikan hormat, pujian dan kuasa kepada Allah yang berkenan mengosongkan diri-Nya demi kehidupan ciptaan”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Hidup selama hari sabat yang sudah mulai tetapi belum selesai itu adalah selalu datang kepada Allah untuk memberikan kembali kemuliaan, hormat dan kuasa yang menjadi dasar atau bahan baku dari keberadaanya”.

III. TANGGAPAN TEOLOGIS TERHADAP AJARAN DR. EBEN NUBAN TIMO.

Setelah melihat dan merinci apa yang diajarkan oleh Dr. Eben Nuban Timo, sekarang saya akan memberikan tanggapan teologis terhadap ajaran-ajarannya satu per satu :

1. Tentang Allah menjadikan bumi ini dengan bahan dasar dari dalam diri Allah (Roh dan Firman).

Dr. Eben Nuban Timo : “Gereja mengajarkan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi tanpa bahan dasar apa pun. Allah menciptakan dari ketiadaan. Ungkapan Latin untuk itu adalah “creatio ex nihilo”. Pendapat ini benar, setidak-tidaknya jika yang dimaksudkan adalah bahan dasar yang berasal dari luar diri Allah”. Tetapi dalam bahasa Latin ada lagi suatu ungkapan lain yang berbunyi “ex nihilo nihil fit”, yang artinya dari ketiadaan tidak mungkin ada yang terjadi atau tercipta. Bagaimana mungkin ada sesuatu di samping Allah yang bernama penciptaan jika tidak ada bahan dasar apa pun untuk membentuk ciptaan?

Tanggapan Saya :

1. Apakah begitu sukar bagi Allah atau mustahil bagi Dia untuk melakukan penciptaan tanpa sama sekali menggunakan bahan dasar atau bahan baku, entah dari luar atau dari dalam diri-Nya? Kata-kata Dr. Eben ini bertentangan dengan kesaksian Alkitab yang mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Luk 1:37 : Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

Yer 32:17 - “…Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu’”.

Kalau memang benar bahwa hal itu mustahil bagi Allah, itu pasti mustahil bagi Allahnya Dr. Eben Nuban Timo, tetapi bukan bagi Allah yang dibicarakan di dalam Alkitab.

2. Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “menciptakan” dalam Kej 1:1 adalah “BARA” yang memang berarti penciptaan dari ketiadaan.

Kej 1:1 : Pada mulanya Allah menciptakan (BARA) langit dan bumi.

John J. Davis : Kata kerja bara (“menciptakan”) mengungkapkan gagasan suatu penciptaan mutlak, atau ex nihilo penciptaan, secara lebih baik daripada kata kerja yang lain….. Oleh sebab itu, tindakan penciptaan oleh Allah yang tercermin dalam ayat 1 tidak melibatkan material yang sudah ada sebelumnya; Allah yang mahatinggi dan mahakuasa menciptakan langit dan bumi dari yang tiada. (Paradise to Prison, hal. 39-40).

Millard Erickson : Dalam PL istilah ini (“bara”) dipakai sebanyak 38 kali dalam bentuk Qal dan 10 kali dalam bentuk Nifal. Bentuk nominal (beri’ah – ciptaan) muncul hanya 1 kali (Bil 16:30). Bentuk Qal dan Nifal hanya dipakai untuk Allah, dan tidak pernah dipakai untuk manusia. Jelas bahwa kata kerja ini secara teologis dipakai untuk menunjukkan keunikan karya Allah ini yang berbeda dengan semua hasil karya manusia yang dibuat dari benda-benda yang sudah ada. (Teologia Kristen Vol 1, hal. 476).

Millard Erickson : ‘Bara’ tidak pernah muncul dengan akusatif yang menunjuk pada sebuah obyek yang dibentuk kembali oleh Allah. Jadi ide tentang penciptaan dari kekosongan bisa saja merupakan arti dari istilah ini….Istilah ini tidak pernah dipasang dengan suatu obyek langsung yang menunjukkan benda yang dengannya Allah menciptakan sesuatu yang baru”. (Teologia Kristen Vol 1, hal. 477-478).

W.S Lasor, A.A. Hubbard, F.W. Bush : Penulis Kejadian 1 menggunakan kata Ibrani bara ‘menciptakan’, suatu kata dalam Perjanjian Lama yang hanya dipakai untuk Allah saja tanpa menyebut sama sekali bahan yang dipakai untuk menciptakan. Kata ini menggambarkan pekerjaan yang tidak ada kesamaannya dengan pekerjaan manusia dan tidak dapat diterjemahkan dengan istilah seperti “membuat” atau “membangun”. (Pengantar PL 1, hal. 122)

Jamieson, Fauset and BrownBara - tidak dibentuk dari suatu bahan yang sudah ada sebelumnya, tapi dibuat dari ketiadaan.

Di dalam bahasa Ibrani sebenarnya ada 2 kata lain yakni “ASAH” dan “YATSAR” yang maknanya lebih longgar di mana selain bisa dipakai juga untuk penciptaan tanpa menggunakan bahan dasar dan bisa juga diartikan penciptaan dengan menggunakan bahan dasar yang sudah ada sebelumnya. Pada umunya diartikan “menjadikan” atau “membentuk”. Misalnya :

Kej 1:26 - Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan (ASAH) manusia menurut gambar dan rupa Kita, …"

Kej 2:7 - ketika itulah TUHAN Allah membentuk (“YATSAR”) manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Note : Tubuh manusia diciptakan dengan menggunakan bahan dasar yang sudah ada sebelumnya yakni debu tanah.

Nah, seandainya benar bahwa Allah menciptakan dunia ini dengan menggunakan bahan baru dari dalam diri-Nya seperti yang dikatakan Dr. Eben Nuban Timo, lebih tepat kata yang dipakai dalam Kej 1:1 itu adalah “ASAH” atau “YATSAR” dan bukannya “BARA”. Jadi penggunaan kata “BARA” dalam Kej 1:1 ini seharusnya meruntuhkan teori omong kosong yang dikemukakan Eben Nuban Timo walaupun ia berkata bahwa itu adalah kesaksian kitab Kejadian :

Dr. Eben Nuban Timo : “Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian tentang proses penciptaan langit dan bumi oleh Allah, menjadi jelas bahwa Allah memang menciptakan langit dan bumi sebagai kenyataan ciptaan, maka bahan baku untuk itu diambil Allah dari diri Allah sendiri”.

Ide tentang penciptaan dari ketiadaan ini yang mucul dari kata Ibrani “BARA” bukan hanya berlaku bagi bahan dasar dari luar diri Allah tetapi juga dari dalam diri Allah.

Dr. Nico Syukur Diester, OFM : “Menciptakan dunia bukan dari sesuatu yang sudah ada (creatio ex nihilo) itu diartikan oleh teologia secara rangkap. Pertama, Allah sendiri bukanlah “bahan” yang daripada-Nya dunia diciptakan (ex nihilo sui). Andaikata Allah sendiri bahannya, andaikata dunia dijadikan “dari Allah” seperti “Sabda lahir dari Bapa”, atau sungai keluar dari mata air, maka pada hakikatnya tiada perbedaan antara Allah dengan dunia sehingga kita jatuh dalam panteisme. Kedua, juga tidak ada bahan di luar Allah yang daripadanya Allah menjadikan langit dan bumi (ex nihilo subiecti). Seandainya di samping pencipta masih ada bahan yang bukan diciptakan-Nya sehingga bersifat kekal-abadi, maka masih ada prinsip atau asas yang kedua yang daripadanya alam semesta terjadi. Kalau demikian, kita jatuh dalam dualisme ontologis, segalanya berasal dari dua prinsip. (Teologia Sistematika 2, hal. 61).

Millard Erickson : “..Allah tidak melibatkan diri-Nya dalam proses penciptaan. Penciptaan bukanlah sesuatu yang dibuat dari diri-Nya. Ciptaan bukan merupakan bagian dari diri Allah atau sesuatu yang keluar dari Allah. (Teologi Kristen Vol. 1, hal. 479).

Karena harus disimpulkan bahwa teori Dr. Eben Nuban Timo bahwa Allah menciptakan dunia ini dengan mempergunakan bahan baku dari dalam diri Allah sendiri adalah teori yang salah dan dipaksakan sebagaimana dikatakan Erickson :

Millard Erickson : “Sekalipun dapat dikemukakan bahwa Allah ketika itu memakai sarana-sarana rohani yang tidak kelihatan sebagai bahan untuk menciptakan benda yang kelihatan, ini tampaknya merupakan gagasan buatan yang dipaksakan. (Teologi Kristen Vol 1, hal. 478).

2. Tentang bahan dasar / bahan baku (dari dalam diri Allah) untuk penciptaan.

Tanggapan Saya : Jika diteliti dengan seksama, ada ketidakkonsistenan dalam tulisan Dr. Eben Nuban Timo ini.

• Di bagian awal tulisannya, ia menulis bahwa yang menjadi bahan dasar / bahan baku penciptaan adalah Firman dan Roh.

Dr. Eben Nuban Timo : “Alkitab menunjukkan bahwa Roh dan Firman adalah bahan baku sekaligus daya kreatif yang diambil Allah dari diri-Nya untuk memproses keberadaan langit dan bumi”.

Dr. Eben Nuban Timo :Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan”.

Tetapi anehnya dalam pembahasannya ia hanya menyebut-nyebut Firman yang bermetamorfosa menjadi ciptaan-ciptaan tanpa menyebutkan Roh sama sekali.

Dr. Eben Nuban Timo :Firman yang keluar dari mulut Allah itu tidak pergi begitu saja dan lenyap dalam kekosongan atau hampaan tetapi firman itu berubah wujud menjadi terang yang mengusir kegelapan. Allah melihat proses metamorfosa dari firman menjadi terang itu baik, maka Allah mengulang hal yang sama berhadapan dengan air yang menutupi bumi. Allah berfirman dan firman itu berubah menjadi cakrawala”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Proses yang sama dilakukan terus menerus oleh Allah dari hari pertama sampai hari keenam, firman berubah menjadi pohon, menjadi tumbuh-tumbuhan, menjadi burung-burung, menjadi aneka jenis ikan, berbagai macam species binatang di darat”. Pada hari yang keenam Allah tidak hanya memberikan firman-Nya untuk berubah wujud menjadi manusia. Allah juga memberikan gambar diri-Nya sendiri supaya manusia yang berwujud dari firman itu menjadi serupa dengan Allah.

Dr. Eben Nuban Timo : “Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi teran, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia”. Kita bisa katakan bahwa firman mengisi semua kekosongan bumi dalam berbagai-bagai wujud dan bentuk tanah, batu, pohon, air, binatang-binatang dan manusia.

Kalau begitu di mana peranan Roh yang juga adalah salah satu bahan baku selain dari Firman itu?

• Belakangan ia mengatakan bahwa setelah penciptaan itu Allah lalu menjadi kosong dan miskin dalam hal kemuliaan, kebesaran, kuasa dan hormat.

Dr. Eben Nuban Timo : “tetapi pada saat yang sama Allah yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran menjadi kosong dan miskin. Ia yang tadinya memiliki segala hal menjadi tidak lagi memiliki apa-apa”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu”.

Dr. Eben Nuban Timo : Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa”.

Jadi letak persoalannya adalah di mana peranan Roh sebagai bahan baku penciptaan itu? Bagaimana Firman yang keluar dan bermetamorfosa menjadi ciptaan tetapi kemuliaan, kebesaran dan kuasa yang menjadi hilang atau kosong dari diri-Nya? Apakah Fiman itu adalah elemen yang sama dengan kemuliaan, kebesaran dan kuasa? Ataukah Dr. Eben yang mulai bingung dengan teori yang dia buat sendiri? Kelihatannya yang kedua ini yang benar!

3. Tentang Firman yang berubah / bermetamorfosa menjadi ciptaan.

Dr. Eben Nuban Timo : “Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian tentang proses penciptaan langit dan bumi oleh Allah, menjadi jelas bahwa Allah memang menciptakan langit dan bumi sebagai kenyataan ciptaan, maka bahan baku untuk itu diambil Allah dari diri Allah sendiri. Alkitab menunjukkan bahwa Roh dan Firman adalah bahan baku sekaligus daya kreatif yang diambil Allah dari diri-Nya untuk memproses keberadaan langit dan bumi”.

Tanggapan Saya :

1. Ini jelas sesuatu yang sangat lucu! Coba Dr. Eben Nuban Timo menunjukkan ayat mana yang mengatakan demikian? Ayat mana dalam kitab Kejadian yang mengatakan bahwa Firman itu berubah atau bermetamorfosa menjadi terang, batu, kayu, burung, ikan, dll?

2. Alkitab sama sekali tidak mengatakan demikian! Perhatikan ayat ini :

• Kej 1:3 : Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi terang? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, maka terang itu secara ajaib menjadi ada.

• Kej 1:6 : Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi cakrawala? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, maka cakrawala itu menjadi ada.

• Kej 1:11 : Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbij dan segala jenis pohon buah-buahan? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, tumbuh-tumbuhan itu menjadi ada.

• Kej 1:20-21 : (20) Berfirmanlah Allah: "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala. (21) Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Apakah ayat ini mengatakan bahwa Firman berubah menjadi burung-burung dan binatang-binatang laut? Sama sekali tidak! Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ketika Allah berfirman dalam hal ini adalah berkata, maka terciptalah burung-burung dan binatang-binatang laut. Dan masih banyak contoh lainnya!

Terlihat dengan jelas bahwa firman tidak pernah berubah menjadi ciptaan apa pun seperti yang dikatakan Dr. Eben.

3. Kata “firman” dalam ayat-ayat di atas harus diartikan sebagai “kata-kata Allah” sehingga ayat-ayat itu hanya berarti bahwa ketika Allah berkata-kata / berucap / memerintah, maka semua ciptaan itu menjadi ada.

Ini meneguhkan fakta tentang penciptaan yang keluar dari ketiadaan. Perhatikan ayat-ayat ini :

Maz 33:9 - Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

TL : Karena berkatalah Ia, maka ia itupun adalah; berfirmanlah Ia maka ia itupun terdiri.

Rat 3:37 - Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?

Maz 148:5 - Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.

Rom 4:17 – “…di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

BIS : “…Dialah juga Allah yang dengan berkata saja membuat apa yang tidak pernah ada menjadi ada.

Walter Kaisar : “…ciptaan digambarkan sebagai hasil dari firman Allah yang dinamis. Memunculkan dunia sebagai tanggapan langsung kepada firman-Nya sama dengan tindakan Yesus dari Nazaret yang menyembuhkan orang langsung ketika Ia berfirman….Demikian juga dnegan firman diucapkan di sini, dan terjadilah dunia. (Teologi Perjanjian Lama, hal. 101).

Terus terang saya heran mengapa seorang doktor teologia seperti Eben Nuban Timo tidak bisa mengartikan kata-kata kitab Kejadian yang sesederhana ini? Di awal ia berkata : “Kalau kita memeriksa dengan seksama kesaksian kitab Kejadian…” tapi menurut saya ia sama sekali tidak seksama tapi ngawur.

4. Ada kemungkinan Dr. Eben Nuban Timo mencampuradukkan ide tentang firman berubah menjadi ciptaan-ciptaan termasuk manusia dengan Yoh 1:14 :

Yoh 1:14 - Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Dugaan ini muncul karena penggunaan kata “firman” yang diawali dengan definite article / kata sandang “sang” di depannya sehingga menjadi “sang firman” yang adalah istilah umum untuk suatu makhluk.

Dr. Eben Nuban Timo - Setiap kali Allah berfirman, jadilah sesuatu. Itu memiliki empat arti. Pertama, sesuatu yang tercipta itu berhutang eksistensi kepada Sang firman.

Dr. Eben Nuban Timo - Keempat, terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman…”

Dr. Eben Nuban Timo - Bukan hanya Roh-Nya saja yang dikirim keluar untuk menjadi bahan baku bagi keberadaan ciptaan tetapi Sang firman juga dikeluarkan Allah dari diri-Nya untuk menjadi material dasar dari penciptaan.

Kalau dugaan ini benar, jelas ini adalah sesuatu penafsiran yang salah karena :

a. Kata “firman” dalam kisah-kisah penciptaan (Kej 1) berbeda artinya dengan kata “firman” dalam pembukaan Injil Yohanes.

Kata “firman” dalam kisah-kisah penciptaan (Kej 1) mempunyai arti hurufiah sebagai kata-kata atau ucapan Allah sehingga artinya menjadi seperti dipaparkan sebelumnya bahwa hanya dengan berkata-kata / berucap, jadilah semua ciptaan sedangkan kata “firman” dalam Yoh 1:14 bukan berarti ucapan bibir Allah melainkan gelar bagi Yesus sebagai Putera Allah. Bahwa Yesus memang bergelar Firman Allah terlihat dari :

Yoh 1:1 - Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1 Yoh 1:1 - Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Wah 19:13 - Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."

b. Firman menjadi manusia dalam Yoh 1:14 dikenal dengan istilah “inkarnasi” atau penjelmaan Anak Allah menjadi manusia. Tetapi ini sama sekali tidak berarti bahwa Sang Firman berubah atau bermetamorfosa menjadi manusia sehingga Firman itu lalu menjadi tidak ada lagi sebagaimana teori penciptaan Dr. Eben. Dalam inkarnasi, Firman mengambil hakikat manusia tetapi sama sekali tidak kehilangan atau kekurangan keilahian-Nya. (Akan dijelaskan lebih detail di belakang).

5. Kelihatannya Dr. Eben Nuban Timo tidak bisa membedakan kata bahasa Indonesia “dari firman” dan “oleh firman”.

Jikalau ia bisa membedakan makna kata-kata ini tentu ia tidak akan membuat kesimpulan sengawur itu karena ada perbedaan antara kata-kata “dijadikan dari firman” dan “dijadikan oleh firman”.

Jikalah dikatakan bahwa sesuatu dijadikan dari firman maka memang firman menjadi bahan baku dari sesuatu itu seperti meja dibuat dari kayu. Tetapi kalau dikatakan bahwa sesuatu dijadikan oleh firman firman maka jelas artinya adalah firmanlah yang menjadi sebab atau firman dipakai untuk menyebabkan terjadinya sesuatu itu. Seperti dikatakan meja dibuat oleh tukang. Jadi firman bukan bahan baku dari sesuatu itu.

Sekarang mari kita perhatikan ayat-ayat ini :

Maz 33:6 : Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.

Ibr 11:3 - Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

6. Dr. Eben juga mengatakan bahwa Roh adalah bahan baku dari ciptaan. Tapi sekarang perhatikan ayat ini :

Maz 104:30 - Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.

Terlihat dengan jelas bahwa Roh sama sekali tidak berubah menjadi ciptaan. Roh juga tidak dipakai sebagai bahan baku ciptaan. Rohlah yang memungkinkan munculnya ciptaan.

Semua ini membuktikan bahwa firman Allah dan Roh tidak pernah menjadi bahan baku dari ciptaan atau berubah atau bermetamorfosa menjadi ciptaan tetapi firman dan Roh yang menjadi sebab atau dipakai Allah untuk menciptakan semua ciptaan.

4. Tentang Allah menjadi berkurang, miskin, kosong, kehabisan energi, tidak memiliki apa-apa dan tidak berdaya.

Tanggapan saya :

1. Ini teori yang sangat naif dan bodoh yang bersifat menghina Allah dan bertentangan dengan kesaksian Alkitab tentang kesempurnaan, kebesaran dan ketidakberubahan Allah.

• Alkitab menunjukkan bahwa Allah sama sekali tidak kelelahan apalagi kehabisan energi setelah pekerjaan penciptaan.

Yes 40:28 - Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

TL - Tiadakah engkau mengetahuinya? Belumkah engkau mendengarnya, bahwa Tuhan itulah Allah yang kekal, Khalik segala ujung bumi, yang tiada tahu penat atau lemah, dan lagi tiada terduga hikmat-Nya

Bandingkan ayat tersebut dengan kata-kata Dr. Eben :

Dr. Eben Nuban Timo : “Ini suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan. Allah sungguh kehabisan energi dan menjadi tidak berdaya.

• Alkitab menunjukkan bahwa Allah sebelum mencipta dan setelah mencipta tetaplah sama. Ia tidak mengalami perubahan apa pun.

Maz 102:26-28 – (26) Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. (27) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; (28) tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.
Bandingkan :

Yak 1:17 - Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Tony Evans : ‘Tidak ada satu pengaruh pun yang telah menjadikan Allah sebagaimana ada-Nya sekarang. Allah yang sekarang adalah sepenuhnya sama dengan Allah yang dahulu. Allah yang sekarang dan Allah yang dahulu adalah sepenuhnya Allah yang akan datang” (Allah Kita Maha Agung, hal. 73).

Ini jelas berbeda dengan pandangan Dr. Eben Nuban Timo yang menyiratkan adanya perubahan dalam diri Allah antara sebelum dan sesudah mencipta.

Dr. Eben Nuban Timo : Allah yang semula mengisi dan memenuhi segala sesuatu berkenan untuk memberi ruang bagi adanya sesuatu yang lain. Cara yang diambil Allah ialah dengan mengosongkan diri, membuat diri-Nya makin berkurang”.

• Alkitab menunjukkan bahwa Allah setelah penciptaan selesai, Allah masih memenuhi segala sesuatu.

Yer 23:24 - Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.

Maz 139:7-9 – (7) Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (8) Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. (9) Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, (10) juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Ini jelas berbeda dengan pandangan Dr. Eben Nuban Timo :

Dr. Eben Nuban Timo : “…terisinya kekosongan bumi dengan berbagai ciptaan yang berhutang eksistensi kepada Sang firman pada saat yang sama berarti Allah yang tadinya penuh dengan segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu menjadi makin berkurang dan kosong.

2. Jikalau setelah penciptaan Allah menjadi tidak berdaya apa-apa, bagaimana Ia bisa menopang segala ciptaan dan melanjutkan eksistensi mereka?

• Ingat bahwa setelah penciptaan, semua ciptaan masih bergantung mutlak kepada Allah.

Maz 104:27-30 - “(27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.

Ayub 12:7-10 – (7) Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; (10) bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?

Kis 17:28 - Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,…”

Nah bayangkan kalau Allah memang benar-benar telah kosong, miskin, kehabisan energi, tidak berdaya apa-apa, bagaimana nasib semua makhluk dan semua ciptaan?

• Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab ternyata tidak seperti Allahnya Dr. Eben Nuban Timo.

Ibr 1:2-3 – (2) “…Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta (3) Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. …”

TL : “…Dialah juga yang memelihara keutuhan alam semesta ini dengan sabda-Nya yang sangat berkuasa….”

Silahkan pikirkan, kalau Allah sudah kehabisan energi dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bagaimana mungkin Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan?

Yes 40:28-29 – (28) Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

Silahkan pikirkan, kalau Allah sudah kehabisan energi dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bagaimana mungkin Ia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya?

5. Tentang proses kenosis dalam penciptaan.

Mungkinkah teori Dr. Eben Nuban Timo ini benar karena pada saat itu Allah memang sedang melakukan tindakan “kenosis” atau pengosongan diri?

Dr. Eben Nuban Timo : Dalam karya penciptaan Allah menjalani suatu proses kenosis (pengosongan diri) yang radikal. Allah mengeluarkan sesuatu dari diri-Nya, yakni firman yang kemudian menjelma menjadi terang, tumbuh-tumbuhan dan akhirnya manusia.

Tanggapan saya :

1. Kata “KENOSIS” berasal dari bahasa Yunani “KENOO” yang berarti “mengosongkan diri” dan konsep ini dipakai oleh Paulus untuk menjelaskan keadaan Kristus pada saat inkarnasi.

Fil 2:5-8 – (5) “…Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan (KENOO) diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Jadi memang benar bahwa Kristus pernah mengosongkan diri-Nya yaitu pada saat Ia datang sebagai manusia demi penebusan dosa manusia. Bandingkan :

2 Kor 8:9 - Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Hanya persoalannya adalah atas dasar apa Dr. Eben Nuban Timo menerapkan prinsip kenosis ini kepada kasus penciptaan?

Sepanjang yang saya tahu (setelah membaca banyak tafsiran Alkitab, penyelidikan terhadap kata Yunani “KENOO” lewat berbagai macam Ensiclopedia dan Kamus Alkitab), tidak pernah sekalipun kata “KENOO” atau prinsip kenosis ini diterapkan pada peristiwa penciptaan. Jadi ini murni karangan Dr. Eben Nuban Timo.

*************

Seorang jemaat mencoba mendiskusikan hal ini dengan Dr. Eben Nuban Timo, dan jawaban dari Dr. Eben Nuban Timo dilanjutkan ke saya. Berikut ini SMS Dr. Eben dan tanggapan saya :

Eben Nuban Timo : Dalam Fil 2 Paulus berbicara tentang Allah yang mengosongkan diri, menjadi tidak berdaya dalam Kristus. Pengosongan diri itu tidak hanya di salib, tetapi sudah mulai waktu penciptaan di mana Allah mengambil gambar diri-Nya untuk diberikan kepada manusia.

Tanggapan saya :

1. Pengosongan diri oleh Yesus dalam Fil 2 terkait dengan penebusan manusia dari dosa. Tapi kalau pengosongan diri dalam penciptaan, hubungannya dengan apa?

2. Apakah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah lalu membuat Allah menjadi kosong dan kehabisan gambar dan rupa itu?

Jawaban Eben Nuban Timo : 3 karya Allah itu bukan 3 pekerjaan yang terpisah tapi 3 sisi dari karya yang satu dan sama. Kalau kita bilang terpisah, wah repot, jadi seperti Marcion atau Arius. Alkitab juga bilang begitu. Apa yang dikerjakan Anak itu juga yang dikerjakan bapa dan Roh Kudus. Kita terlalu sering pahami kuasa Allah secara matematika, akumulasi, padahal kuasa Allah itu relational, bukankah Allah adalah kasih? Kasih mengandaikan saling berbagi dan menjadi kurang, tapi dalam pengurangan itu kita jadi kuat. Itu yang dijarkan Alkitab.

Tanggapan saya : 3 karya Allah yang mana? Saya percaya bahwa Allah Tritunggal bekerjasama dalam hal-hal tertentu tetapi itu tidak berarti bahwa 1 hal tertentu yang dialami oleh 1 pribadi harus juga dialami oleh pribadi yang lain? Misalnya, yang menjadi manusia itu kan pribadi Anak. Apakah Pak Eben mau berkata bahwa Bapa dan Roh Kudus juga menjadi manusia? Yang mati disalib itu adalah pribadi Anak. Apakah Pak Eben mau bilang bahwa Bapa dan Roh Kudus juga mati disalib? Karena itu kalau Kristus mengalami pengosongan diri, itu tidak berarti bahwa Bapa juga harus mengalaminya dalam penciptaan? Lalu kalau ke 3 nya musti mengalaminya, lalu kapan Roh Kudus mengosongkan diri?

Jawaban Eben Nuban Timo : Maaf, saya menahan diri untuk menjawab pertanyaan tadi karena banyak hal mendasar tentang ajaran Trinitas yang belum jelas sehingga meuncul pertanyaan seperti itu. Maaf sekali lagi.

***********

Penjelasan tentang pandangan Dr. Eben yang menganggap Allah mengosongkan diri dengan dalam penciptaan karena Ia mengambil gambar diri-Nya untuk diberikan kepada manusia :

Ingat bahwa maksud dari Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya adalah bahwa sewaktu Allah menciptakan manusia, Ia memasukkan sebagian sifat diri-Nya ke dalam manusia sehingga manusia lalu mewarisi sifat Allah dan karena itu sampai taraf tertentu manusia menjadi mirip dengan Allah.

Maz 8:6 - Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Tetapi apakah karena Allah telah memasukan sifat-Nya ke dalam manusia lalu membuat Ia kehilangan sifat-Nya itu? Misalnya Allah memberikan sifat kekal-Nya ke dalam manusia :

Pengkh 3:11 - Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. …”

Apakah karena itu maka Allah lalu kehilangan kekekalan diri-Nya dan menjadi kosong dalam hal kekekalan?

Allah adalah Roh, maka Ia menciptakan manusia sebagai makhluk rohani. Apakah karena itu Allah lalu kehilangan atau mengalami kekosongan Roh? Allah adalah pribadi dan karena itu Ia menciptakan manusia sebagai pribadi. Apakah karena itu Allah lalu kehilangan atau mengalami kekosongan kepribadian? Allah adalah “makhluk” berratio dan karena itu Ia menciptakan manusia sebagai makhluk yang berratio pula. Apakah karena itu Allah lalu kehilangan atau mengalami kekosongan ratio? Ini ajaran gila namanya!

2. Sekalipun Fil 2 membicarakan tentang pengosongan diri Yesus, tetapi konsepnya jelas berbeda dengan yang diajarkan Dr. Eben Nuban Timo dalam penerapan konsep kenosisnya di dalam peristiwa penciptaan.

Menurut Dr. Eben Nuban Timo, proses kenosis yang dialami Allah dalam penciptaan membuat Ia kehilangan segala yang Ia punya seperti kuasa, kehormatan, kemuliaan, energi, daya, dsb.

Ini jelas konsep kenosis yang asing dan berbeda dengan konsep kenosis dalam Fil 2 di mana Kristus sama sekali tidak kehilangan sebagian atau seluruh kemuliaan kuasa, kemuliaan, kehormatan dan keilahian-Nya. Jika konsep kenosis dari Dr. Eben diterapkan pada Fil 2 maka ini menjadi salah karena :

a. Yesus adalah Allah dan karena itu Ia tidak bisa berubah (bdk. Maz 102:26-28 Mal 3:6 Yak 1:17). Allah tidak bisa berhenti menjadi Allah, sekalipun hanya untuk sementara!

b. Allah Tritunggal bubar.

c. Kristus bukanlah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Ia hanya manusia biasa, tanpa keilahian! Dan kalau ini benar, maka Ia tak bisa menjadi Pengantara antara Allah dan manusia dan penebusan-Nya tidak bisa mempunyai nilai yang tidak terbatas.

Dalam faktanya, di dalam masa penjelmaan pun Yesus masih bisa melakukan banyak mujizat yang hebat, menunjukkan sifat-sifat ilahi dan tindakan-tindakan serta mengeluarkan pernyataan-pernyaan yang hanya mungkin dilakukan oleh Allah. Jadi kenosis yang dialami oleh Kristus tidak berarti bahwa Ia menjadi kehilangan segala-galanya melainkan Ia berkenan untuk menyembunyikan dan tidak menggunakan segala kuasa / kemuliaan yang dimiliki-Nya untuk membuat hidup-Nya lebih mudah.

Calvin: Kristus tidak bisa melepaskan dirinya sendiri dari keilahian-Nya; tetapi menyembunyikannya untuk sementara waktu, supaya tak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia mengesampingkan kemuliaan-Nya dalam pandangan manusia, bukan dengan menguranginya, tetapi dengan menyembunyikannya.

Herman Hoeksema : Ini tidak berarti bahwa Anak Allah untuk sementara waktu mengesampingkan hakekat ilahi, untuk menukarnya dengan hakikat manusia. Ini mustahil, karena hakikat ilahi tidak bisa berubah. ... Tetapi itu berarti bahwa Ia masuk ke dalam keadaan manusia sedemikian rupa sehingga di depan manusia kemuliaan dan keagungan ilahi-Nya tersembunyi, sekalipun bahkan dalam saat perendahan pun itu kadang-kadang memancar keluar, seperti misalnya dalam pelaksanaan / pertunjukan keajaiban-Nya. (‘Reformed Dogmatics’, hal. 399).

Jadi boleh dikatakan bahwa kesalahan Dr. Eben Nuban Timo dalam poin ini adalah :

1. Penerapan teori kenosis dari Fil 2 kepada kisah penciptaan tanpa dasar teologis / argumentasi yang kuat.

2. Konsep kenosis yang diperkenalkan dalam kisah penciptaan ternyata berbeda dengan konsep kenosis yang asli dalam Fil 2.


6. Tentang Allah yang sudah tidak berdaya apa-apa lagi hanya bisa menunggu manusia mengembalikan kuasa, kemuliaan dan kehormatan-Nya.

Dr. Eben Nuban Timo : “Dalam keadaan yang tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak berdaya karena telah membagi-bagikan semua yang ada pada-Nya sebagai bahan baku untuk membentuk ciptaan, Allah mengundurkan diri untuk masuk dalam sabat. Penarikan diri Allah sekarang menjadi penuh pada hari ketujuh. Pada hari itu, Allah tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menunggu manusia memimpin segenap ciptaan untuk mengembalikan kepada-Nya kemuliaan, kuasa dan kebesaran yang sudah dibagi-bagikan itu”.

Dr. Eben Nuban Timo : “Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Ia mengundurkan diri ke dalam sabat untuk menunggu manusia memimpin seluruh ciptaan masuk ke dalam sabat, bertemu dengan Allah untuk memberikan segala hormat, kemuliaan dan kuasa”.

Tanggapan saya :

1. Teori Dr. Eben Nuban Timo ini sangat mengina Allah dengan menempatkan Allah di bawah ciptaan / manusia dan bergantung pada manusia / ciptaan. Ini bertentangan dengan Alkitab.

• Alkitab mengatakan bahwa bahwa ciptaanlah yang bergantung pada Allah dan bukan Allah yang bergantung pada ciptaan.

Maz 104:27-30 - “(27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.

Ayub 12:7-10 – (7) Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; (10) bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?

Kis 17:28 - Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,…”

Tony Evans : ‘...Allah ini ’independen’ dari ciptaan-Nya. Dengan ‘independen’ saya maksudkan, Allah itu tidak membutuhkan apa pun….agar Ia dapat tetap menjadi Allah. (Allah Kita Maha Agung, 72)

• Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak kekurangan apa-apa.

Kis 17:24-25 – (24) Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, (25) dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.

A.W. Tozer : “Dengan mengakui bahwa di dalam Allah ada kebutuhan, maka itu berarti mengakui bahwa pada diri Allah terdapat suatu kekurangan. “Perlu” merupakan kata bagi makhluk ciptaan dan tidak dapat diterapkan kepada Sang Pencipta”. (Mengenal Yang Maha Kudus, hal. 50).

A.W. Tozer : “Allah tidak akan menjadi lebih besar karena kita ada dan juga tidak akan menjadi lebih kecil jika kita ini tidak ada”. (Mengenal Yang Maha Kudus, hal. 52).

2. Manusia yang diciptakan memang harus memuji, membesarkan dan memuliakan Allah tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa manusia memberikan sesuatu yang tadinya tidak dipunyai oleh Allah (karena kahabisan setelah mencipta).

Perhatikan komentar-komentar berikut :

Tony Evans : “Anda tidak bisa memberikan sesuatu yang dapat mempertinggi tingkatan Allah, atau mengambil sesuatu dari-Nya yang dapat mengurangi tingkatan-Nya. Allah memang demikian karena Ia sepenuhnya Allah”. (Allah Kita Maha Agung; hal. 73).

A.W. Tozer : ‘Oleh karena Ia adalah Allah yang di atas segala sesuatu, maka Ia tidak dapat ditinggikan lagi. Tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada Allah, dan tidak ada sesuatu yang di luar jangkauan-Nya.....Oleh karena tidak ada seorang pun yang dapat lebih meninggikan Dia, maka tidak ada seorang pun yang dapat merendahkan Dia. Di dalam Alkitab dituliskan bahwa Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1 :3), Bagaimana mungkin Ia ditinggikan atau didukung oleh sesuatu yang ditopang-Nya ? (Mengenal Yang Maha Kudus, hal.51).

Tony Evans : ‘Arti sifat Allah ini (kesempurnaan Allah) ialah bahwa Allah itu lengkap secara penuh dan absolut. Tak ada sesuatu pun yang bisa ditambahkan kepada-Nya atau diambil daripada-Nya....ini menjelaskan mengapa Alkitab mengatakan, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Allah’ (Allah Kita Maha Agung, hal. 67).

Louis Leahy : Haruslah dihindari bayangan bahwa Allah adalah semacam pribadi yang haus pujian, penghormatan dan pemujaan. Dari ajaran mengenai kesempurnaan Allah sendiri, dapatlah dikatakan bahwa Allah dengan mencipta sama sekali tidak mungkin mencari kebaikan-Nya sendiri, baik untuk mendapatkannya maupun untuk menjaga dan menambahkannya. (Filsafat Ketuhanan Kontemporer, hal. 233).

3. Prinsip di dalam ibadah Kristen di mana manusia memuji, memuliakan dan membesarkan Tuhan bukanlah membuat Allah menjadi mulia, besar dan berkuasa, bukan juga mengembalikan apa yang pernah dipunyai oleh Allah (di mana sekarang tidak Ia miliki) melainkan adalah pengakuan ciptaan terhadap kuasa, kebesaran dan kemuliaan Allah yang sudah dinyatakan dalam hidup ciptaan.

Perhatikan ayat ini :

Maz 148:3-13 : (3) Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! (4) Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! (5) Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. (6) Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar. (7) Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya; (8) hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya; (9) hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: (10) hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap; (11) hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; (12) hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! (13) Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, SEBAB HANYA NAMA-NYA SAJA YANG TINGGI LUHUR, KEAGUNGAN-NYA MENGATASI BUMI DAN LANGIT.

Perhatikan bahwa ayat 1-12 berisi puji-pujian dari ciptaan kepada pencipta tetapi ayat 13 mengungkapkan alasannya yakni Nama-Nya tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi langit dan bumi. Berarti puji-pujian dari ciptaan bukan membuat Allah menjadi tinggi dan agung melainkan mengakui ketinggian dan keagungan-Nya itu. Inilah prinsip yang sesungguhnya dari Alkitab bukan seperti yang diajarkan Dr. Eben Nuban Timo.

Prof. Louis Leahy membagi kemuliaan Allah menjadi dua bagian (Filsafat Ketuhanan Kontemporer, hal. 234) yaitu :

1. Kemuliaan Allah obyektif yakni kemuliaan Allah yang “permanen” dan sempurna dalam diri-Nya.

2. Kemuliaan Allah formal yang berisi pengakuan komunikasi itu oleh pihak manusia.

Kalau begitu sesuai dengan Maz 148:3-13 maka prinsip ibadah Kristen adalah mengembalikan kemuliaan kepada Allah tetapi bukan kemuliaan Allah yang obyektif melaikan kemuliaan Allah yang formal di mana manusia memberikan pengakuan terhadap kemuliaan Allah yang sudah dinyatakan terhadap dan di dalam ciptaan.

Esra Alfred Soru : Dengan pengertian semacam ini maka sesungguhnya ketika manusia “memuliakan” dan mengagungkan Tuhan, itu bukan berarti manusia memberikan tambahan kemuliaan kepada-Nya, melainkan manusia mengakui kemuliaan-Nya yang telah dinyatakan dan dikomunikasikan kepada, melalui dan di dalam manusia itu. Inilah kemuliaan Allah formal, dan di sini pula terletak arti dari penciptaan manusia. (Mengapa Allah Menciptakan Manusia, hal. )

Louis Berkhof : Tujuan paling utama yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan, tetapi untuk memanifestasikan kemuliaan-Nya dalam buah pekerjaan-Nya. Memang benar bahwa dalam melakukan hal itu Ia juga akan menyebabkan surga menyatakan kemuliaan-Nya dan cakrawala menunjukkan pekerjaan tanganNya, burung-burung di udara dan binatang buas memuliakanNya, dan anak manusia menyanyikan pujian. Akan tetapi pujian kepada Sang Pencipta tidaklah menambah apa-apa kepada kesempurnaan keberadaanNya, tetapi hanyalah mengakui kebesaran-Nya dan mmeberikan kepadaNya kemuliaan bagiNya. (Teologi Sistematika – Doktrin Allah, hal. 256-257).


KESIMPULAN.

Dari semua pembahasan dan tanggapan yang sudah saya berikan, jelas bahwa ajaran Dr. Eben Nuban Timo tentang penciptaan dan pengosongan diri Allah jelas adalah ajaran yang tidak Alkitabiah, ajaran yang aneh dan boleh dikategorikan sebagai ajaran yang dapat menyesatkan jemaat. Kiranya tanggapan ini bisa menolong jemaat untuk membedakan mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang palsu.

2 Pet 2:1 : Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka


- AMIN -