Kedatangan Kristus kedua kali adalah keselamatan bagi umat TUHAN dan
pembinasaan bagi Iblis. Keselamatan itu adalah penggenapan janji TUHAN
bagi umat-Nya. Keselamatan itu semata-mata adalah anugerah TUHAN.
Pada
hari penghakiman, sesungguhnya TUHAN akan memusnahkan Iblis. TUHAN akan
menggenapi janji-Nya kepada bangsa Israel yang adalah kebun anggur
TUHAN. Pada waktu itu, bangsa Israel berkembang dan mengalami kemuliaan
TUHAN. Semua itu terjadi karena kesetiaan TUHAN atas janji-Nya kepada
Abraham, Ishak dan Yakub. Bangsa Israel bukan bangsa yang baik dan
benar, namun TUHAN akan membuat mereka bertobat dari perilakunya yang
jahat dan berdosa. Ia akan mengampuni dosa-dosa mereka. Saat itu, bangsa
Israel akan kembali kepada TUHAN dan menyembah-Nya di gunung yang
kudus, di Yerusalem.
Pelajaran penting yang kita peroleh dari
perjanjian Allah dengan bangsa Israel adalah bahwa TUHAN tidak pernah
mengingkari janji-Nya, meskipun bangsa Israel telah gagal untuk mengikut
Tuhan dengan setia. Dengan cara TUHAN, Ia akan membuat bangsa Israel
bertobat dari perilakunya yang berdosa serta berbalik kepada TUHAN.
Itulah anugerah Allah. Pada akhirnya, ketika umat TUHAN diselamatkan,
tidak ada seorang pun yang boleh membanggakan diri karena jasanya.
Demikian pula dengan bangsa Israel. Keselamatan yang dialami bangsa
Israel merupakan anugerah TUHAN. Allah memelihara umat-Nya sampai kepada
kesudahannya. Bukan itu saja, Ia akan memuliakan umat-Nya. Kemuliaan
TUHAN akan dialami oleh umat TUHAN pada hari yang agung itu. Kita yang
sudah percaya kepada Yesus Kristus adalah orang yang berbahagia, karena
hari itu datang sebagai keselamatan bagi kita. [RAAL]
Yesaya 27:2-3
"Bernyanyilah
tentang kebun anggur yang elok!Aku, TUHAN, Penjaganya; setiap saat Aku
menyiraminya.Supaya jangan orang mengganggunya, siang malam Aku
menjaganya."
Kamis, 12 Juni 2014
Tanggung Jawab Orang Kristen 2
Orang Kristen memiliki status ganda, yaitu sebagai anak Tuhan dan
sekaligus sebagai anak bangsa. Oleh karena itu, orang Kristen harus
menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Sebagai anak bangsa, orang Kristen bertanggung jawab untuk bersikap taat kepada pemerintah dalam segala hal (3:1). Sebagai anak Tuhan, orang Kristen harus siap melakukan pekerjaan yang baik.
Di satu sisi, terdapat orang Kristen ekstrim yang hanya menekankan status sebagai anak Tuhan sehingga hanya memperhatikan hal-hal yang bersifat vertikal dan tidak peduli terhadap bangsa dan negara, termasuk tidak membayar pajak dan tidak peduli terhadap keadaan sekitarnya. Di sisi lain, terdapat pula orang Kristen ekstrim lain yang bertentangan dengan firman Tuhan, yaitu terlalu memperhatikan urusan dunia (kepedulian terhadap sesama maupun dalam urusan bangsa dan negara, tetapi melupakan Tuhan dan pekerjaan-Nya.
Orang Kristen di Pulau Kreta mempunyai nama jelek dalam masyarakat. Mereka tidak berperilaku baik terhadap negara maupun terhadap sesama. Mereka menyangkal status mereka sebagai orang Kristen.
Rasul Paulus menasihati Titus agar mengingatkan orang-orang Kreta agar tunduk kepada pemerintah dan penguasa. Mereka harus sadar bahwa Tuhan menempatkan mereka untuk mengusahakan dan memberikan sumbangsih positif bagi bangsanya. Orang Kristen harus taat kepada Pemerintah dan memperhatikan sesama serta mengasihi dengan kasih agape, dengan memperhatikan kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmani orang lain. Orang Kristen adalah anak Tuhan dan sekaligus anak bangsa yang harus memperhatikan keseimbangan dalam kehidupan [LM]
Titus 3:1
"Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik."
Sebagai anak bangsa, orang Kristen bertanggung jawab untuk bersikap taat kepada pemerintah dalam segala hal (3:1). Sebagai anak Tuhan, orang Kristen harus siap melakukan pekerjaan yang baik.
Di satu sisi, terdapat orang Kristen ekstrim yang hanya menekankan status sebagai anak Tuhan sehingga hanya memperhatikan hal-hal yang bersifat vertikal dan tidak peduli terhadap bangsa dan negara, termasuk tidak membayar pajak dan tidak peduli terhadap keadaan sekitarnya. Di sisi lain, terdapat pula orang Kristen ekstrim lain yang bertentangan dengan firman Tuhan, yaitu terlalu memperhatikan urusan dunia (kepedulian terhadap sesama maupun dalam urusan bangsa dan negara, tetapi melupakan Tuhan dan pekerjaan-Nya.
Orang Kristen di Pulau Kreta mempunyai nama jelek dalam masyarakat. Mereka tidak berperilaku baik terhadap negara maupun terhadap sesama. Mereka menyangkal status mereka sebagai orang Kristen.
Rasul Paulus menasihati Titus agar mengingatkan orang-orang Kreta agar tunduk kepada pemerintah dan penguasa. Mereka harus sadar bahwa Tuhan menempatkan mereka untuk mengusahakan dan memberikan sumbangsih positif bagi bangsanya. Orang Kristen harus taat kepada Pemerintah dan memperhatikan sesama serta mengasihi dengan kasih agape, dengan memperhatikan kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmani orang lain. Orang Kristen adalah anak Tuhan dan sekaligus anak bangsa yang harus memperhatikan keseimbangan dalam kehidupan [LM]
Titus 3:1
"Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik."
Tanggung Jawab orang Kristen
Menerima status sebagai orang "Kristen" adalah anugerah semata-mata.
Anugerah kehidupan dan keselamatan dari Allah harus
dipertanggungjawabkan kepada Allah yang memberikan anugerah itu.
Bacaan Alkitab hari ini menjelaskan tanggung jawab orang Kristen. Pertama, orang Kristen bertanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang sudah diperoleh dari Tuhan (2:11). Anugerah sudah tersedia, bahkan sudah diterima oleh orang-orang Kreta yang percaya kepada Tuhan, namun kehidupan mereka jauh dari Tuhan. Mereka menyia-nyiakan anugerah Tuhan seperti halnya dengan banyak orang Kristen pada masa kini.
Kedua, orang Kristen bertanggung jawab untuk membuang dosa (2:12). Dosa menghambat berkat Allah. Dosa membutakan mata rohani orang percaya untuk melihat dan melakukan kehendak Tuhan. Setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi "manusia baru". Ada hal-hal yang memalukan yang tidak pantas dilakukan oleh orang percaya yang sudah lahir baru dan menyandang gelar manusia baru (Efesus 4:20-31).
Ketiga, orang Kristen bertanggung jawab untuk melayani (2:15). Injil keselamatan Allah wajib diteruskan. Paulus menyebut hal itu sebagai pekerjaan yang baik dan satu-satunya kelakuan yang diwajibkan bagi semua yang telah menikmati anugerah keselamatan. Oleh karena itu, Paulus mengatakan kepada Titus bahwa melayani (mengabarkan Injil) merupakan kewajiban orang percaya. Menyia-nyiakan anugerah Tuhan, berkancah dosa, dan tidak melayani adalah tindakan tidak bertanggung jawab. Orang itu bukan orang Kristen sejati. Sudahkah Anda bertanggung jawab atas anugerah Tuhan? [LM]
Titus 2:12
"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini."
Bacaan Alkitab hari ini menjelaskan tanggung jawab orang Kristen. Pertama, orang Kristen bertanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang sudah diperoleh dari Tuhan (2:11). Anugerah sudah tersedia, bahkan sudah diterima oleh orang-orang Kreta yang percaya kepada Tuhan, namun kehidupan mereka jauh dari Tuhan. Mereka menyia-nyiakan anugerah Tuhan seperti halnya dengan banyak orang Kristen pada masa kini.
Kedua, orang Kristen bertanggung jawab untuk membuang dosa (2:12). Dosa menghambat berkat Allah. Dosa membutakan mata rohani orang percaya untuk melihat dan melakukan kehendak Tuhan. Setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi "manusia baru". Ada hal-hal yang memalukan yang tidak pantas dilakukan oleh orang percaya yang sudah lahir baru dan menyandang gelar manusia baru (Efesus 4:20-31).
Ketiga, orang Kristen bertanggung jawab untuk melayani (2:15). Injil keselamatan Allah wajib diteruskan. Paulus menyebut hal itu sebagai pekerjaan yang baik dan satu-satunya kelakuan yang diwajibkan bagi semua yang telah menikmati anugerah keselamatan. Oleh karena itu, Paulus mengatakan kepada Titus bahwa melayani (mengabarkan Injil) merupakan kewajiban orang percaya. Menyia-nyiakan anugerah Tuhan, berkancah dosa, dan tidak melayani adalah tindakan tidak bertanggung jawab. Orang itu bukan orang Kristen sejati. Sudahkah Anda bertanggung jawab atas anugerah Tuhan? [LM]
Titus 2:12
"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini."
APA KATA ALKITAB TENTANG MANUSIA? (Part 1)
Pdt. Stephen Tong pernah berkata : “Nilai terbesar di dalam kebudayaan manusia
adalah manusia itu sendiri. Potensi terbesar di dalam sejarah manusia adalah
manusia itu sendiri. Bahaya terbesar di dalam masyarakat adalah manusia itu
sendiri. Bukankah manusia telah menjadi sasaran kasih yang paling mempesona
manusia yang lain? Manusia, siapakah manusia itu?” (Peta dan Teladan Allah, hal. vii). Ya! Siapakah
manusia itu? Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling penting di dalam
dunia ini. Pertanyaan ini bukan saja penting tetapi juga klasik sekaligus “up to date”.
Anthony Hoekema – Manusia menjadi salah
satu problem paling krusial pada zaman kita. Para
filsuf bergumul dengannya, para sosiolog mencoba untuk menjawabnya, para
psikolog dan psikiater tengah menghadapinya, pakar etika dan aktivis sosial
mencoba untuk memecahkannya. Bahkan para penulis novel dan dramawan juga
melibatkan diri dalam pertanyaan ini…Hampir setiap novel atau drama kontemporer
bergumul dengan pertanyaan, “Apakah manusia itu?” (Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, hal. 2-3).
Secara historis, orang mulai berpikir tentang
manusia sudah dari zaman yang sangat lama. Protagoaras (480-411 SM), Socrates
(469-399 SM), Aristoteles (384-322 SM), Mencius (371-288 SM), filsafat Tiongkok
kuno maupun filsafat India
kuno telah membicarakan juga tentang manusia. Dan menjawab pertanyaan ini tidak
mudah. Mengapa? Dari sisi pertanyaan itu saja, karena subyek dan obyek dari
pertanyaan ini adalah satu/sama yakni “MANUSIA”. Siapa yang bertanya? Manusia! Kepada
siapa ditanyakan? Manusia! Tanya tentang apa? Manusia! Pertanyaan ini mirip
dengan pertanyaan “Siapakah aku ini?” Dalam
pertanyaan ini subyek dan obyek satu yakni “AKU”. Siapa yang bertanya? “AKU!” Kepada
siapa ditanyakan? “AKU!” Tanya tentang apa? “AKU!” Jadi subyek dan obyeknya
sama. Yang bertanya adalah yang ditanya. Yang mencari tahu adalah yang
dicaritahu. Yang ingin mengetahui adalah yang ingin diketahui.
Stephen Tong – Bukankah suatu hal yang
lucu jika siapakah manusia itu ditanyakan kepada manusia dan dijawab oleh
manusia sendiri? (Peta dan Teladan
Allah, hal.
vii).
Pertanyaannya adalah bagaimana manusia bisa bertanya
“Siapakah manusia itu?” Jawabannya
adalah karena manusia adalah makluk yang bertanya. Manusia bertanya tentang
segala sesuatu di luar/di sekeliling dirinya (Biologi, Fisika, Kimia, dll). Selanjutnya manusia bertanya segala sesuatu di dalam dirinya (Antropologi,
Psikologi). Dan
akhirnya manusia bertanya tentang segala sesuatu di atas dirinya (Teologi).
Note : Itu berarti bahwa
teologia tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan semua ilmu yang lain
karena semua ilmu yang lain hanya membahas tentang apa yang ada DI
SEKELILING DAN DI DALAM manusia tetapi teologia membahas tentang apa yang ada
DI ATAS manusia. Benarlah yang dikatakan orang bahwa teologia adalah “The Queen or the King of Science”. (Ratu/Raja
dari semua ilmu pengetahuan). Karena itu :
·
Yang belajar biologi, fisika, kimia jangan sombong dan menganggap remeh
orang yang belajar teologia. (Pada sekolah SMA zaman dulu para siswa yang duduk
di kelas A1 dan A2 menganggap remeh A3 dan A4. Itu salah!).
·
Orang yang belajar teologia tidak boleh minder terhadap orang-orang yang
belajar disiplin ilmu yang lain.
·
Kalau saudara sudah pakar di dalam ilmu yang lain, jangan cepat puas.
Carilah/belajarlah teologia karena ini adalah “The Queen or the King of Science”. (Belajar teologia tidak berarti
harus sekolah teologia. Saudara bisa belajar teologia di gereja lewat
khotbah-khotbah dan PA).
·
Kalau mau mempersembahkan anak untuk Tuhan (sekolah teologia), berilah
yang paling pintar karena dia akan menggeluti cabang ilmu yang paling tinggi.
Jangan berikan yang pintar-pintar untuk ilmu yang lain dan yang paling bodoh
untuk teologia.
Lalu bagaimana kita menjawab pertanyaan “Siapakah manusia itu?” Dapatkah manusia
menjawab pertanyaan “Siapakah manusia
itu?” atau “Siapakah aku ini?” Di
balik pertanyaan “siapakah aku ini?”
muncul banyak pertanyaan : Siapakah yang bertanya? (“AKU”). Mengapa “AKU”
bertanya? (Karena “AKU” mau mencari tahu). Mengapa “AKU” mencari tahu? (Karena
“AKU” tidak tahu). Tetapi “AKU” bertanya pada siapa?” Atau
kepada siapa “AKU”
mencari tahu? (Kepada “AKU” sendiri). Tapi bukankah “AKU” tidak tahu dan
sementara mencari tahu? Bagaimnana “AKU” bisa memberi tahu? Kalau “AKU” sudah
tahu seharusnya tak perlu mencari tahu lagi. Tapi kalau “AKU” tidak tahu juga,
lalu untuk apa mencari tahu pada yang tidak tahu? Jadi “AKU” yang tidak tahu ternyata
telah bertanya kepada “AKU” sendiri yang tidak tahu. Lalu bagaimana bisa tahu? Tidak
mungkin! Di sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya manusia dari dirinya
sendiri tidak bisa menjawab dengan tuntas siapa dirinya sendiri. Kalau begitu
jawaban atas pertanyaan tsb tidak boleh datang dari diri manusia itu sendiri
tetapi dari luar/dari atas manusia sendiri yakni dari Tuhan Allah dalam hal ini
adalah firman-Nya. Jadi firman Allahlah yang dapat memberikan jawaban tuntas
kepada manusia tentang siapa dirinya.
Kalau kita memeriksa Firman Tuhan, maka Firman Tuhan
memberitahukan dengan jelas kepada kita bahwa sesungguhnya manusia itu adalah
ciptaan Allah. (Man is the Creation of
God).
Kej 1:1, 27 – (1)
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…(27) Maka Allah menciptakan manusia itu…"
Jadi manusia tidak berada dengan sendirinya. Dia
dicipta oleh Allah / diadakan oleh Allah. Kalau memang manusia diciptakan oleh
Allah maka ada saat di mana manusia tidak ada dan baru memperoleh keberadaannya
pada suatu saat. Itu berarti bahwa manusia membutuhkan Allah untuk menjadi ada.
Tanpa Allah manusia tidak pernah berada atau tidak pernah jadi ada.
Selanjutnya, setelah dicipta, apakah manusia bisa terlepas dari Allah? Tidak!
Kis 17:25,28 – (25)
“…Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
(28) Sebab di dalam Dia
kita hidup, kita bergerak, kita ada…”
Ayub 12:9-10 – (9)
Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan
itu (10) bahwa di dalam
tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa setelah dicipta
manusia terus bergantung pada Allah. Manusia tidak pernah menjadi otonom /
independen di dalam keberadaannya.
Anthony Hoekema – “…kita berhutang kepada
Allah atas setiap nafas kita, kita bereksistensi hanya di dalam Dia, di dalam
setiap gerakan yang kita lakukan, kita bergantung kepada-Nya. Kita tidak akan
mampu mengangkat satu jari pun di luar kehendak Allah. (Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, hal. 8).
Inilah natur manusia! Manusia adalah ciptaan yang
bergantung mutlak kepada Allah. Maksudnya adalah manusia bergantung kepada
Allah supaya berada dan terus bergantung kepada Allah supaya tetap berada.
Seorang anak yang lahir, seluruh hidupnya bergantung pada orang tuanya, tetapi
ada saat di mana ia menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya lagi
yakni pada saat dia sudah dewasa. Tetapi manusia tidak demikian. Keberadaannya
berasal dari Allah dan keberlangsungan keberadaannya juga terus bergantung pada
Allah. Tidak saat di mana manusia tidak bergantung pada Allah. Paulus berkata
dalam Kis 17:28 : “Sebab di dalam Dia
kita hidup, kita bergerak, kita ada…”. Ini sama dengan ikan di dalam laut
yang keberadaannya sangat bergantung pada air laut. Sesaat saja keluar dari
air, ia akan mati. Inilah konsekuensi dari status kita sebagai ciptaan. Dan
biarlah kita selalu mengingat ini. Sehebat apa pun kita, sepintar apa pun kita,
sekaya apa pun kita, kita adalah ciptaan yang sangat bergantung pada Allah.
Jangan menjadi sombong dan lupa diri karena kita tidak akan bisa menggerakkan 1
jari pun tanpa Dia. Juga jangan suka protes pada Allah karena kita hanya
ciptaan yang bergantung pada Dia seperti yang dilakukan oleh Yunus.
Yun 4:4,9 – (4)
Tetapi firman TUHAN: "Layakkah
engkau marah?" (9) Tetapi
berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah
sampai mati."
Bandingkan :
Rom 9:20 - Siapakah
kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata
kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?
Banyak kali kita protes kepada Allah dan menunjukkan
ketidakpuasan kita terhadap keberadaan kita seperti (miskin, tidak pintar,
tidak ganteng/cantik, warna kulit, dsb), tetap ingatlah bahwa kalau kita bisa
ada saja itu sudah anugerah Tuhan yang besar. Tidak usah protes kepada Tuhan!
Kita sudah melihat bahwa manusia adalah ciptaan
Allah tetapi bagaimana ia diciptakan? Itulah yang akan kita pelajari dengan
lebih mendalam :
I.
MANUSIA DICIPTAKAN DENGAN / MELALUI PERUNDINGAN ILAHI.
Ada satu hal yang menyolok sewaktu manusia diciptakan oleh
Allah yakni penggunaan kata bentuk jamak yang menunjuk pada diri Allah yang
muncul dalam Kej 1:26.
Kej 1:26 - Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, ….”
Penggunaan kata bentuk jamak ini menarik mengingat bahwa
Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa Allah itu esa/satu.
Ul 6:4 - Dengarlah,
hai orang Israel:
TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
1 Raj 8:60 - supaya
segala bangsa di bumi tahu, bahwa TUHANlah
Allah, dan tidak ada yang lain
Nah, jika Allah itu esa/satu, maka pada saat Ia menciptakan
manusia, logis untuk mengatakan “Baiklah Aku menciptakan manusia menurut
gambar dan rupa Ku…”
tetapi yang nampak dalam Kej 1:26 tidaklah demikian melainkan menggunakan kata
bentuk jamak “Kita”. Kalau begitu, apa maksud kata “Kita” dalam ayat 26 ini?
Sepanjang sejarah penafsiran Alkitab, muncul beragam penafsiran :
- Ada yang mengatakan bahwa ini adalah jamak kehormatan (Plural Majestaticus).
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan jamak kehormatan
ini, perhatikan penjelasan Stephen Tong berikut ini :
Stephen Tong – Semua agama di Timur mempunyai kebiasaan memanggil dewa
mereka dengan istilah jamak, bukan tunggal. Bagi mereka istilah dalam bentuk
tunggal tidak cukup lengkap untuk menjelaskan mengenai dewa/ilah karena
dewa/ilah lebih besar dari manusia. Ilah itu begitu besar, sehingga manusia
tidak boleh menyebutnya dengan memakai kata benda tunggal, harus jamak.
Meskipun hanya satu dewa, tetap tidak diijinkan menyebutnya dengan singular form, harus plural form. Ini adalah bentuk bahasa
agama yang berlaku pada 1500 tahun sebelum Yesus lahir di Timur Tengah, yang
disebut sebagai majestic pluralism. (Peta
& Teladan Allah, hal. 8).
Karena itu mereka beranggapan bahwa kata “Kita” dalam Kej
1:26 hanyalah sekedar sapaan penghormatan kepada Allah dalam tradisi religius
orang Timur Tengah. Tetapi ada 2 keberatan terhadap pandangan ini :
·
Jika tradisi ini benar
sekalipun, itu harus tetap ditolak dalam kaitan dengan Kej 1:26 karena tradisi
itu merupakan cara panggilan manusia kepada Allah sedangkan Kej 1:26 mengatakan
bahwa Allahlah yang berbicara bukan manusia yang berbicara tentang Allah.
Kej 1:26 - Berfirmanlah
Allah: "Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ….”
·
Selain itu kata ganti
“Kita” ini juga muncul dalam Kej 3:22 yang dari formula kalimatnya tak mungkin
diartikan sebagai jamak kehormatan.
Kej 3:22 - Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah
menjadi seperti salah satu dari Kita,
….”
Dengan demikian pandangan tentang jamak kehormatan ini
mesti ditolak.
- Ada yang mengatakan bahwa ini adalah bentuk pemuliaan diri sendiri.
Pandangan ini mengakui bahwa memang dalam ayat tersebut
Allahlah yang berbicara bukan sapaan manusia kepada Allah. Tetapi mereka lalu
menafsirkan bahwa penggunaan bentuk jamak oleh Allah sendiri menunjukkan bahwa
Allah sementara memuliakan diri-Nya sendiri. Tetapi Louis Berkhof menganggap
bahwa ini adalah asumsi yang tidak masuk di akal.
Louis Berkhof – Mengapa harus ada pemuliaan diri sendiri dalam bentuk
jamak kecuali jika memang ada pluralitas dalam diri Allah. (Teologi
Ssistematika – Doktrin Manusia, hal.
6)
- Ada yang mengatakan bahwa ini menunjuk pada Allah dan dewan surgawi (malaikat-malaikat-Nya).
Dikatakan bahwa Allah sementara mengajak
malaikat-malaikat-Nya untuk turut mencipta manusia. Keberatan untuk pandangan
ini adalah :
·
Di seluruh Alkitab
tidak pernah dikatakan bahwa malaikat menjadi pencipta manusia.
·
Kalau ditafsirkan
demikian maka berarti manusia juga dicipta dengan gambar dan rupa malaikat. Ini
jelas ajaran yang tidak Alkitabiah.
·
Jikalau malaikat juga
mencipta manusia maka kedudukan malaikat akan menjadi setara dengan Allah dan
berhak atas penyembahan manusia. Padahal hal itu jelas dilarang dalam Alkitab!
·
Perhatikan baik-baik :
Kej 1:26-27 – (26)
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…"
(27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki
dan perempuan diciptakan-Nya
mereka.
Jelas bahwa
kata ‘Kita’ dan ‘Nya’ menunjuk kepada Allah sendiri.
Jelas terlihat bahwa semua penafsiran itu tidak masuk akal.
Jika demikian siapakah yang dimaksudkan dengan “KITA” dalam Kej 1:26 itu? Saya
percaya ini menunjuk pada Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang
memang adalah Allah yang esa itu.
Stephen Tong – “…mengapa Allah
menyebut "Kita" adalah bahwa Allah adalah Allah yang Tritunggal.
Keesaan Allah yang di dalamnya ada Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus,
menciptakan suatu dialog di antara ketiga Oknum itu sendiri. Allah dalam tiga
Oknum ini sedang berdiskusi, merencanakan sesuatu bagi ciptaan teragung
sehingga ditulis demikian jelas proses dari penciptaan itu. (Peta
dan Teladan Allah, hal. 9).
Fakta ini menarik karena di dalam penciptaan yang lain,
hanya dikatakan bahwa Allah berfirman dan semuanya jadi. Tetapi sewaktu
menciptakan manusia tidak demikian formulanya melainkan : “Baiklah Kita menjadikan manusia…” (Kej
1:26). Kesan yang ditangkap adalah bahwa untuk menciptakan manusia,
terlebih dahulu telah terjadi semacam “perundingan” atau “rapat” ilahi di
antara oknum-oknum Tritunggal.
R.
Soedarmo - Tuhan Allah waktu menjadikan makhluk-makhluk lain hanya
berfirman saja “Jadilah ini” dan “Jadilah itu”. Tetapi ketika Tuhan akan
menjadikan manusia, Ia bermusyawarah. (Ikhtisar
Dogmatika, hal. 139).
Budi
Asali - Allah berunding dulu sebelum menciptakan manusia (Kej 1:26-27).
Ini adalah perundingan ilahi, karena dilakukan antar pribadi-pribadi dalam
Allah Tritunggal. Ini tidak pernah Ia lakukan sebelumnya, pada waktu Ia
menciptakan ciptaan yang lain. (Eksposisi
Kitab Kejadian, hal.9).
Stephen Tong – Sebelum Allah
Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus mencipta, Mereka berdiskusi dan Allah
berkata, 'Mari Kita menciptakan manusia menurut peta dan teladan Kita." (Peta
dan Teladan Allah, hal. 9).
Semua ini
menunjukkan bahwa manusia sangat berharga dan istimewa di hadapan Allah.
Anthony Hoekema - Ini
mengindikasikan bahwa penciptaan manusia memiliki kelas tersendiri, karena
ungkapan ini tidak dipakai untuk ciptaan lain yang mana pun…. Juga harus
diperhatikan bahwa ada sebuah perencanaan yang mendahului penciptaan manusia: "Marilah Kita menjadikan
manusia...." Hal ini sekali lagi menunjukkan keunikan dalam penciptaan
manusia. Perencanaan ilahi seperti ini tidak pernah dikaitkan dengan ciptaan
lain. (Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, hal. 16-17).
Jika Allah saja begitu menghargai manusia dan
menganggapnya begitu istimewa, maka sudah seharusnya manusia sendiri memandang
manusia itu sebagai sesuatu yang berharga dan istimewa. Dalam hal ini :
- Manusia harus menghargai dirinya sendiri.
Seorang manusia harus belajar untuk menilai
dirinya sebagaimana Allah menilainya dan jikalau Allah sangat menghargai dan
menganggap seorang manusia begitu istimewa maka seorang manusia harus juga
melihat dirinya demikian adanya. Karena itu janganlah kita menjadi orang yang
rendah diri hanya karena wajah tidak secantik dan setampan orang lain. Janganlah kita menjadi orang yang rendah
diri hanya karena kulit tidak seterang orang lain. Janganlah kita menjadi orang yang rendah diri hanya
karena rambut tidak selurus orang lain. Janganlah kita menjadi orang yang rendah diri hanya karena otak
tidak sepintar orang lain. Janganlah
kita menjadi orang yang rendah diri hanya karena uang tidak sebanyak
orang lain. Janganlah kita menjadi
orang yang rendah diri hanya karena nama tidak setenar orang lain. Janganlah kita menjadi orang yang rendah
diri hanya karena lidah tidak sefasih orang lain. Janganlah kita menjadi orang yang rendah diri hanya
karena kesehatan tidak sebaik orang lain, dll. Rendah diri menunjukkan bahwa kita kurang menghargai diri kita sendiri
sebagaimana Allah menghargainya.
- Manusia harus menghargai orang lain.
Karena orang lain juga adalah manusia seperti kita
maka kita juga harus belajar untuk menghargai orang lain sebagaimana Allah juga
menghargai mereka. Kita tidak boleh menganggap remeh orang lain, memperlakukan
mereka secara berbeda apalagi menghina mereka hanya karena wajah mereka
tidak secantik dan setampan kita, kulit mereka tidak seterang kita, rambut mereka
tidak selurus kita dan lain sebagainya. Saya pernah mendengar ada orang
berkomentar tentang seseorang. Ia berkata : “Bayangkan
sudah hitam, kriting, hidup lagi!”. Jadi menurut orang ini seharusnya orang
hitam dan kriting itu tidak boleh hidup. Ini jelas adalah penghinaan. Kita tidak boleh menganggap remeh orang
lain, memperlakukan mereka secara berbeda apalagi menghina mereka hanya karena
otak mereka tidak sepintar kita, uang mereka tidak sebanyak uang kita, nama mereka
tidak setenar nama kita, lidah mereka tidak sefasih kita, kesehatan mereka
tidak sebaik kita, dan lain sebagainya. Ingat, anda adalah makhluk yang
istimewa dan berharga di mata Tuhan, demikian juga sesama manusia anda.
Hargailah dirimu dan orang lain juga!
II. MANUSIA
DICIPTAKAN SECARA LANGSUNG DAN SEGERA.
Fakta lain tentang penciptaan manusia adalah bahwa ia
dicipta secara langsung dan segera.
Kej 1:27 - Maka
Allah menciptakan manusia itu….”
Maksudnya adalah bahwa pada saat Allah mencipta
manusia, Ia telah mencipta manusia sebagai manusia sehingga hasil dari ciptaan
itu benar-benar adalah manusia. Allah tidak menciptakan suatu makhluk yang lain
yang nantinya akan berubah / berproses menjadi manusia seperti kepompong yang
lalu berubah menjadi kupu-kupu. Tidak sama sekali! Ia menciptakannya langsung
dan segera menjadi manusia. Semua ini jelas bertentangan dengan apa yang
diajarkan teori evolusi yang dipelopori oleh Charles Darwin lewat bukunya Origin of the Species pada
tahun 1859. Memang, teori evolusi bukan berasal
dari Darwin,
konsepnya dapat ditelusuri kembali hingga ke Yunani purba. Ada
juga beberapa pendahulu Darwin
pada abad ke-18 yang merintis jalan sehingga The Origin of Species diterima secara luas. Akan tetapi, buku
Darwinlah yang menjadi dasar dari pemikiran evolusi modern.
Ada pandangan yang berfariasi seputar teori
evolusi ini tetapi secara umum teori ini mengatakan bahwa semua makhluk
hidup itu adalah hasil evolusi dari bentuk yang paling sederhana. Dulunya,
terjadi secara kebetulan, ‘bahan-bahan’ mati bercampur dan berubah menjadi
makhluk bersel satu lalu berubah lagi menjadi makhluk lain yang lebih kompleks.
Yakub Tri
Handoko – “... teori evolusi
bisa dipahami sebagai pandangan yang menyatakan bahwa manusia berasal dari
suatu proses evolusi yang panjang, dimulai dari zat yang paling sederhana
sampai terbentuknya makhluk yang sangat kompleks yang disebut “manusia”.
Keberadaan zat hidup pertama ini biasanya dipahami sebagai hasil dari sebuah
peristiwa alam yang kebetulan dan tiba-tiba. Proses yang diperlukan untuk
evolusi ini bisa memakan waktu berjuta-juta tahun. (www.gkri-exodus.org : Penciptaan
Manusia dan Teori Evolusi).
Sederhananya
begini, mula-mula secara kebetulan ada satu makhluk bersel satu yang setelah
berjuta-juta tahun berkembang menjadi sejenis ikan, lalu setelah jutaan tahun
lagi ikan ini berkembang menjadi amfibi, lalu jutaan tahun kemudian amfibi ini
berkembang menjadi reptilia, lalu jutaan tahun lagi reptilia ini berkembang
menjadi mamalia dan burung dan pada akhirnya beberapa mamalia (seperti monyet)
berkembang menjadi manusia. Dari beberapa proses terakhir hingga menjadi
manusia seperti sekarang ini. Dari beberapa proses terakhir hingga menjadi manusia seperti sekarang ini, dapat digambarkan sebagai berikut :
Kira-kira demikianlah pandangan teori evolusi secara sederhana.
Kira-kira demikianlah pandangan teori evolusi secara sederhana.
Lalu
bagaimana kita menjawab hal ini? Sesungguhnya ada banyak jawaban bisa diberikan
terhadap teori ini berkaitan dengan mutasi genetik, hukum kedua
termodinamika/entropi maupun penemuan biokimia modern yang berhubungan dengan
DNA / RNA tetapi semua penjelasan ini akan menyulitkan kita memahaminya jika
kita tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang bidang-bidang itu. Jadi saya
hanya akan paparkan 2 bantahan saja dan menurut saya itu sudah cukup untuk menunjukan
kemustahilan dan ketidaklogisan teori evolusi ini.
- Teori ini mengatakan bahwa seluruh kehidupan dimulai dari suatu makhluk bersel satu yang kemudian berevolusi selama jutaan tahun menjadi makhluk hidup yang lain.
Pertanyaan saya adalah darimana makhluk bersel satu
ini berasal / ada? Sebagaimana sudah disebutkan di atas, para penganut teori
evolusi mengatakan bahwa makhluk bersel satu ini ada secara kebetulan sebagai
hasil bercampurnya ‘bahan-bahan’ mati. Pertanyaan kita selanjutnya adalah
bagaimana mungkin bahan-bahan mati yang bercampur itu bisa secara otomatis
menghasilkan suatu kehidupan dengan sendirinya? Itu mustahil! Cobalah anda
mencampur sejumlah benda mati, apakah bisa menghasilkan suatu makhluk hidup?
Mereka juga mengatakan bahwa petir yang menyambar menghasilkan suatu zat yang
namanya asam amino, dan asam amino ini adalah unsur dasar dari sel. Tetapi
persoalannya adalah bagaimana bisa suatu zat yang mati seperti asam amino
tahu-tahu bisa berubah menjadi suatu sel yang hidup? Secara logis tidak bisa
diterima kalau sesuatu benda (mati atau hidup) bisa ada secara kebetulan.
Seandainya anda pergi ke hutan dan di sana
anda menemukan secangkir kopi dalam gelas, apakah anda akan mengambil
kesimpulan bahwa gelas dan kopinya itu ada dengan sendirinya atau ada secara kebetulan?
Tidak mungkin! Logika kita akan mengharuskan penyebab dari hal itu. Dengan
demikian teori bahwa ada satu makhluk bersel satu yang muncul secara kebetulan
sebagaimana yang dikatakan para evolusionis adalah omong kosong yang tidak
masuk akal. Di sini paham evolusi ini tidak cocok disebut sebagai teori
melainkan dongeng.
- Perhatikan bahwa teori evolusi ini mengatakan bahwa suatu species tertentu mengalami perkembangan / evolusi menjadi species yang lain dalam kurun waktu jutaan tahun.
Pertanyaan
kita adalah apakah selama jutaan tahun itu ada species yang mati atau tidak?
Pasti ada bukan? Jikalau begitu tentu harus ada species yang mati selama proses
evolusi itu belum maksimal dalam rupa species yang benar-benar baru bukan? Kalau
ya, mengapa tidak ada 1 fosil pun yang ditemukan hingga saat ini yang menunjuk
pada bentuk antara di antara 2 species berbeda. Sederhananya begini. Dikatakan
bahwa ikan berevolusi selama jutaan tahun untuk menjadi seekor buaya.
Pertanyaannya adalah : ada banyak fosil ikan yang ditemukan, demikian juga fosil buaya. Tetapi mengapa tidak pernah ada fosil setengah ikan dan setengah buaya? Bukankah rentang waktu untuk evolusi itu jutaan tahun dan pasti ada species yang mati dalam proses evolusi itu? Mengapa tidak ada fosil-fosil species "setengah jadi" seperti gambar berikut?
Jikalau manusia yang ada sekarang adalah hasil evolusi selama jutaan tahun dari monyet, mengapa tidak ada fosil antara yakni setengah monyet dan setengah manusia? Mengapa ada fosil Pithecantropus Erectus dan fosil Homo Saphiens tetapi tidak ada fosil di antaranya padahal menurut teori evolusi jarak antara Pithecanthropus Erectus dan Homo Saphiens adalah jutaan tahun?
Pertanyaannya adalah : ada banyak fosil ikan yang ditemukan, demikian juga fosil buaya. Tetapi mengapa tidak pernah ada fosil setengah ikan dan setengah buaya? Bukankah rentang waktu untuk evolusi itu jutaan tahun dan pasti ada species yang mati dalam proses evolusi itu? Mengapa tidak ada fosil-fosil species "setengah jadi" seperti gambar berikut?
Jikalau manusia yang ada sekarang adalah hasil evolusi selama jutaan tahun dari monyet, mengapa tidak ada fosil antara yakni setengah monyet dan setengah manusia? Mengapa ada fosil Pithecantropus Erectus dan fosil Homo Saphiens tetapi tidak ada fosil di antaranya padahal menurut teori evolusi jarak antara Pithecanthropus Erectus dan Homo Saphiens adalah jutaan tahun?
Yakub Tri
Handoko – Sejak pandangan
evolusi bergulir para ahli semakin giat mencari berbagai fosil dengan harapan
menemukan “mata rantai yang hilang” yang bisa menjelaskan transisi dari
binatang ke manusia atau dari suatu tahapan evolusi ke tahapan yang lain.
Setelah berjalan puluhan dekade, mata rantai yang hilang itu tidak pernah
ditemukan. (www.gkri-exodus.org : Penciptaan Manusia dan Teori Evolusi)
Tetapi
mungkin saudara berpikir bahwa bukankah gambar-gambar yang beredar maupun
film-film yang ada menunjukkan “bentuk antara” antara monyet dan manusia? Dan
juga bahwa beberapa fosil yang kita pelajari dalam pelajaran sejarah sewaktu di
sekolah menunjukkan ada fosil-fosil yang memang setengah monyet setengah
manusia seperti gambar berikut ini?
Tidak! Itu semua omong kosong! Kalau gambar dan film ya bisa saja hasil imaginasi yang menggambarkan / membuatnya. Tentang fosil-fosil, sebenarnya itu hasil manipulasi yang dilebih-lebihkan supaya mendapatkan rekonstruksi kerangka makhluk hidup kuno yang mendukung evolusi. Berikut ini adalah beberapa “penipuan” ilmiah sehubungan dengan keberadaan fosil-fosil yang diduga sebagai mata rantai yang hilang :
Tidak! Itu semua omong kosong! Kalau gambar dan film ya bisa saja hasil imaginasi yang menggambarkan / membuatnya. Tentang fosil-fosil, sebenarnya itu hasil manipulasi yang dilebih-lebihkan supaya mendapatkan rekonstruksi kerangka makhluk hidup kuno yang mendukung evolusi. Berikut ini adalah beberapa “penipuan” ilmiah sehubungan dengan keberadaan fosil-fosil yang diduga sebagai mata rantai yang hilang :
·
Manusia Piltdown: hasil rekayasa rekonstruksi yang menggabungkan
sebuah rahang kera dengan tengkorak manusia, kemudian diberi warna yang sama.
·
Manusia Jawa: para ahli modern menolak istilah ini. Mereka
meyakini bahwa yang terjadi sebenarnya hanyalah seorang manusia dan kera
ditemukan di tempat yang sama. Fosil-fosil keduanya kemudian direkonstruksi
menjadi “manusia Jawa purba” yang dipercaya menjadi mata rantai dari binatang
ke manusia.
·
Manusia Peking : alat-alat dan tulang-tulang manusia ditemukan
di dekat kera-kera yang otaknya dimakan manusia (orang di daerah tersebut
memang memiliki kebiasaan memakan otak kera).
·
Ramapithecus : sebuah rahang dan geligi-geligi yang akhirnya
dinyatakan bukan berasal dari manusia, melainkan dari orang utan.
Jadi
memang tidak ada dan tidak akan pernah ada “fosil antara” itu dan itu akan
tetap menjadi rantai yang hilang.
William Lane Craig – “... bukti
fosil berdiri begitu teguhnya melawan doktrin nenek moyang yang sama. Ketika
Darwin mengajukan teorinya, salah satu kelemahan utamanya adalah tidak adanya
bentuk organisme transisi di antara satu organisme dengan organisme lainnya. Darwin menjawab ini dengan
mengatakan bahwa binatang transisional ini ada di masa lalu dan suatu saat akan
ditemukan. Tetapi ketika para ahli paleontologis menemukan sisa fosil, mereka
tidak menemukan bentuk-bentuk transisional ini; mereka hanya menemukan lebih
banyak lagi binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda. Tentu, ada beberapa
bentuk transisional yang dicurigai, seperti Arcaeopteryx, seekor burung dengan
fitur reptilia. Tetapi jika teori neo-Darwinian itu benar, tidak akan hanya ada
beberapa missing link; tetapi, seperti yang ditekankan oleh Michael
Denton, akan ada jutaan bentuk transisional dalam catatan fosil. Pikirkan
misalnya, semua bentuk antara (intermediate) yang seharusnya ada untuk
seekor kelelawar dan seekor paus yang telah berevolusi dari nenek moyang yang
sama! Masalah itu tidak lagi dapat ditiadakan begitu saja dengan mengatakan bahwa
kita belum menggali cukup jauh. Bentuk-bentuk transisional belum ditemukan,
karena itu semua memang tidak ada. Maka, bukti yang menyangkut doktrin nenek
moyang yang sama begitu kacau. (Who Made God?, hal. 75)
Dua hal
ini menurut saya sudah cukup untuk membuktikan bahwa teori evolusi hanyalah
omong kosong dan dongeng yang dipercaya oleh banyak ilmuwan. Kesalahan terbesar
Darwin dan para evolusionis lainnya adalah terpaku pada kesamaan antara manusia
dan monyet tetapi melupakan perbedaan di antara keduanya. Memang kalau kita
hanya memperhatikan persamaannya saja maka ada banyak kesamaan antara manusia
dan binatang. Bahkan ada binatang-binatang yang terbilang cerdas apalagi kalau
dilatih secara khusus seperti dalam acara-acara sirkus. Tetapi kalau kita melihat perbedaannya maka ada lebih banyak
perbedaan antara keduanya daripada persamaannya. Karena itu secara logis tidak
bisa disimpulkan bahwa manusia berasal dari monyet hanya karena ada kemiripan
antara monyet dan manusia.
Alkitab bersaksi bahwa manusia diciptakan langsung /
segera sehingga sudah dalam rupa manusia tanpa melalui sebuah proses evolusi.
John Wesley Brill : Alkitab
menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa manusia diciptakan oleh Allah, manusia
diciptakan dalam jangka waktu yang singkat dan langsung sebagai seorang manusia
dewasa yang sempurna. (Dasar Yang
Teguh, hal. 181).
Karena itu sebagai seorang Kristen, kita seharusnya
tidak percaya dan menolak dongeng evolusi ini. Manusia adalah hasil ciptaan
Allah secara langsung dan sempurna. Kita juga tidak boleh kompromi dengan
pandangan evolusi ini seperti yang dilakukan oleh sejumlah teolog yang
mempercayai teori evolusi teistik di mana mereka berusaha menggabungkan teori
evolusi dengan Alkitab dengan mengatakan bahwa teori evolusi tidak harus bertentangan
dengan Alkitab. Mereka lalu menafsirkan ayat-ayat Alkitab dari sudut pandang
teori evolusi dan menganggap bahwa debu tanah dalam Kej 2:7 sebenarnya adalah
bahasa simbolik bagi binatang.
Kej 2:7 - ketika
itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah (binatang) dan menghembuskan nafas hidup ke
dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Ini pandangan yang tidak masuk akal. Apa gerangan
yang membuat penulis kitab Kejadian mengganti sebutan tubuh binatang dengan
bahasa simbolik “debu tanah”. Selain itu kalau memang “debu tanah” di sini mau
diartikan tubuh binatang, maka mereka harus konsisten untuk menerapkan arti
demikian pada ayat-ayat yang lain. Misalnya :
Kej 3:19 - dengan
berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah (binatang), karena dari situlah (binatang) engkau
diambil; sebab engkau debu (binatang)
dan engkau akan kembali menjadi debu
(binatang)."
Pengkh 3:19-20 – (19)
Karena nasib manusia adalah
sama dengan nasib binatang,
nasib yang sama menimpa mereka
(manusia dan binatang); sebagaimana yang satu (manusia) mati, demikian juga yang lain (binatang). Kedua-duanya
(manusia dan binatang) mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan
atas binatang, karena segala
sesuatu adalah sia-sia. (20) Kedua-duanya
(manusia dan binatang) menuju
satu tempat; kedua-duanya (manusia dan binatang) terjadi dari
debu (binatang) dan kedua-duanya (manusia dan binatang) kembali
kepada debu (binatang).
Silahkan pikirkan apakah kalimat ini jadi masuk akal?
Kalau saudara bukan binatang, saudara akan tahu bahwa ini tidak masuk di akal.
Jadi sekali lagi, jangan percaya pada dongeng evolusi ini dan juga jangan
mengkompromikan Alkitab dengan dongeng ini. Kalau Darwin dan pengikutnya mau
percaya hal itu, biarkan saja mereka yang jadi keturunan monyet dan bukan kita.
Pada akhirnya Darwin
memang bertobat tetapi teorinya sudah terlanjur diikuti dan dipercaya oleh para
ilmuwan lain sehingga akhirnya terus dipegang hingga saat ini. Ini mengajarkan
kita untuk berhati-hati di dalam mengajar satu hal karena kalau apa yang kita
ajarkan itu salah, biar pun kita sudah bertobat/menyadari kesalahannya,
kesalahan itu bisa tetap menyebar dan dianggap sebagai kebenaran oleh orang
lain.
Penerapan lain yang bisa saya berikan adalah karena
kita tidak berasal dari binatang (monyet), maka kita tidak boleh memaki orang
lain / anak-anak kita dengan kata “binatang” atau menyebut jenis binatang
tertentu seperti babi, anjing, monyet, dll. Kecuali makian Alkitabiah terhadap
nabi-nabi palsu.
2 Pet 2:22 - Bagi
mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke
muntahnya, dan babi yang
mandi kembali lagi ke kubangannya."
Mat 7:15 - "Waspadalah
terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba,
tetapi sesungguhnya mereka adalah
serigala yang buas.
Luk 13:31-32 – (31)
Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus:
"Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."
(32) Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan
menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan
selesai.
Mat 23:33 - Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan
ular beludak! Bagaimanakah
mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?
Amin
DEKODENISASI "THE DA VINCI CODE" (Part 3)
Yakub Tri Handoko, Th. M
Kanonisasi, konsili dan kitab-kitab non-kanonik
Kanonisasi, konsili dan kitab-kitab non-kanonik
Setelah
membahas kitab-kitab non-kanonik yang berhubungan dengan Maria
Magdalena, kita sekarang akan menyelidiki isu yang lebih luas, yaitu
posisi kitab-kitab non-kanonik dalam gereja abad permulaan. Brown
berpendapat bahwa sejarah berada di tangan yang memiliki kuasa (hlm.
356). Berdasarkan asumsi ini ia meyakini bahwa kanonisasi dan konsili
mulai abad ke-4 hanyalah upaya gereja untuk menindas pihak minoritas.
Gereja ingin menampilkan Yesus sebagai figur yang ilahi, karena itu
berbagai ajaran yang berbeda dengan pandangan mayoritas (ortodoks) ini
sengaja dikesampingkan, terutama pernikahan Yesus-Maria Magdalena dan
penunjukkan Maria Magdalena sebagai pemimpin gereja, seperti tercatat
dalam kitab-kitab non-kanonik.
Untuk menjawab pandangan DVC di atas, kita perlu memaparkan beberapa hal. Usaha kanonisasi pada abad ke-4 bukanlah usaha awal untuk menentukan kitab-kitab yang diterima gereja. Dari tulisan bapa-bapa gereja sebelum abad ke-4 terlihat bahwa kitab-kitab kanonik sebenarnya sudah diterima secara praktis di gereja dalam bentuk pemakaian kitab-kitab tersebut dalam pembacaan publik di ibadah. Pembacaan dalam ibadah ini berakar dari ibadah Yahudi di synagoge dan bait Allah (band. Luk 4:16-21; 1Tim 4:13). Secara khusus berkaitan dengan keempat kitab Injil, dokumen kuno sebelum abad ke-4 sudah mengakui otoritas kitab-kitab tersebut, misalnya Diatesseron. Jadi, penerimaan kitab-kitab kanonik sebagai firman Allah sudah dilakukan secara non-formal jauh sebelum gereja memegang dominasi pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinopel. Kanonisasi hanyalah keputusan resmi (formal) dan menyeluruh dari gereja-gereja yang ortodoks.
Kebutuhan gereja untuk mengetahui dengan jelas kitab apa saja yang merupakan firman Allah tidak bisa dilepaskan dari situasi gereja pada abad ke-2 dan ke-3. Mereka berada di bawah penganiayaan yang hebat. Kepemilikan kitab suci bisa menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk menangkap orang Kristen. Di tengah situasi seperti ini mereka merasa perlu mengetahui kitab-kitab mana yang benar-benar firman Allah, karena pada saat itu kitab-kitab lain juga banyak bermunculan. Mereka ingin diyakinkan bahwa mereka membayar harga mahal untuk firman Allah, bukan untuk kitab-kitab lain yang tidak berotoritas. Selain itu, keberadaan berbagai bidat pada masa itu juga mendorong gereja untuk memiliki pedoman yang jelas yang benar-benar meneruskan ajaran para rasul.
Kita juga perlu memahami bahwa pertentangan dengan ajaran yang tidak sesuai dengan ortodoksi bukan dimulai pada abad ke-4. Pada masa gereja masih menjadi minoritas pada abad ke-2 dan ke-3, bapa-bapa gereja sudah menentang ajaran yang dianggap tidak ortodoks. The Muratorian Canon (abad ke-2) secara eksplisit menyatakan tulisan-tulisan Valentinus dan Marcion harus dibuang dari gereja. Irenaeus (abad ke-2) menulis kitab Against Heresies untuk menegaskan tradisi kekristenan dan sekaligus menentang para bidat.
Hal lain yang perlu kita pahami adalah kriteria kanonisasi. Bagaimana gereja di abad ke-2 dan ke-3 memilih kitab-kitab mana yang pantas dibaca di dalam ibadah? Bagaimana konsili menentukan kitab-kitab mana yang layak dianggap sebagai kanon (pedoman)? Jawaban terhadap pertanyaan ini ada tiga: (1) Kriteria tradisi. Suatu kitab diakui sebagai firman Allah yang berotoritas jika sejak jaman para rasul kitab itu memang sudah diterima oleh gereja mula-mula secara universal. Kriteria ini berhubungan dengan eksistensi para rasul dan gereja induk di Yerusalem sebagai alat kontrol (band. Kis 11 dan 15). Seandainya suatu kitab sejak jaman para rasul memang beredar secara luas dan dipakai dalam ibadah, maka itu berarti kitab tersebut mendapat “pengesahan” dari para rasul sebagai firman Allah. Dari kriteria ini terlihat bahwa kanonisasi justru berakar pada situasi abad pertama ketika orang Kristen masih menjadi minoritas dan dianiaya. Kriteria ini sekaligus juga menolak kitab-kitab non-kanonik yang baru ditulis mulai abad ke-2 dan ditolak oleh bapa-bapa gereja. (2) Kriteria wibawa apostolik. Allah menyatakan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Para rasul merupakan saksi mata dan penerus tradisi dari Yesus. Dua hal inilah yang turut melandasi kanonisasi. Suatu kitab diakui sebagai firman Allah kalau memang bersumber dari para rasul sebagai saksi mata dan penerima ajaran Yesus pertama kali. Berdasarkan kriteria ini, kitab-kitab non-kanonik dengan sendirinya tidak memenuhi syarat, karena mereka ditulis jauh setelah masa hidup para rasul. (3) Kriteria ortodoksi. Suatu kitab yang diakui dalam kanon tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan wahyu Allah sebelumnya maupun kitab yang lain, karena Allah adalah sumber pengilhaman kitab suci. Alkitab tidak mungkin mengandung kontradiksi. Pandangan DVC bahwa kitab-kitab non-kanonik ditolak gereja karena bertentangan dengan ajaran ortodoks tidak bisa dipertahankan. Pandangan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa gereja seharusnya menerima kitab lain yang bertentangan sekalipun.
Sekarang mari kita membahas klaim dalam DVC bahwa doktrin keilahian Yesus baru diciptakan gereja pada abad ke-4 (Konsili Nicea) untuk mengaburkan figur Yesus yang sebenarnya hanyalah manusia biasa yang menikah, mempunyai anak dan bisa mati. Pengakuan terhadap keilahian Yesus sebenarnya sudah muncul pada abad ke-1. Dalam bagian ini saya tidak akan memberikan ayat-ayat dari kitab Injil, karena hal itu bisa dianggap tendensius dan bersifat circular reasoning (kita sedang mendiskusikan validitas catatan tentang Yesus dalam kitab-kitab Injil, tetapi kita menggunakan kitab tersebut sebagai dasar argumen). Ada beberapa teks yang signifikan. Dalam Galatia 1:11-24 (yang ditulis sekitar tahun 50-an), Paulus membuktikan bahwa Injil yang ia beritakan berakar dari ajaran yang bersumber dari Yesus sendiri melalui para rasul maupun pertemuan pribadinya dengan Tuhan di Damaskus (Kis 9). Rujukan penting lainnya ada di Filipi 2:6-11. Paulus mengutip hymne gereja mula-mula yang menyinggung keilahian Yesus (ayat 6-8) dan mengaplikasikan Yesaya 45:23 untuk Yesus. Karena ayat paling awal tentang keilahian Yesus terdapat dalam Filipi 2:9-11, ketika ia mengutip sebuah hymne. Dari pemaparan ini terlihat bahwa doktrin keilahian Yesus bukanlah ciptaan gereja abad ke-4.
Asumsi DVC bahwa doktrin keilahian Yesus sengaja diciptakan untuk menghilangkan sisi kemanusiaan Yesus juga tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kitab-kitab Injil mengajarkan kemanusiaan Yesus. Ia lahir dari seorang manusia, bertumbuh seperti anak-anak pada umumnya, merasakan lapar dan haus, bahkan mati. Seandainya Yesus memang menikah dan mempunyai anak, hal ini tidak akan membahayakan keilahian Yesus. Hal ini bahkan semakin memperkuat ajaran Alkitab tentang kemanusiaan Yesus.
Apakah Yesus menikah?
DVC mengajarkan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Dasar yang dipakai adalah kutipan dari Injil Filipus (hlm. 246-247) dan asumsi bahwa selibat bukanlah praktek yang bernuansa Yahudi (hlm. 245). Sebagai orang Yahudi, Yesus pasti menikah. Alasan pertama tidak akan dibahas dalam bagian ini, karena telah disinggung dalam bagian sebelumnya. Bagian ini hanya akan menanggapi alasan kedua yang dipakai DVC. Kita juga akan melihat beberapa teks yang berhubungan dengan kemungkinan apakah Yesus menikah atau tidak.
Sehubungan dengan asumsi Brown tentang keharusan orang Yahudi yang saleh untuk menikah, kita perlu mengetahui bahwa pada jaman Yesus ada sekelompok orang Yahudi yang saleh yang justru tidak menikah. Mereka dikenal sebagai masyarakat Qumran dan kaum Essenes. Naskah Laut Mati dan kitab sejarah Josephus menegaskan bahwa dua kelompok tersebut menganut gaya hidup selibat. Yesus sendiri mengakui keistimewaan gaya hidup ini dalam kaitan dengan fokus untuk kerajaan Allah (Mat 19:10-12).
Catatan Alkitab yang mengajarkan bahwa Maria Magdalena ikut bepergian bersama Yesus tidak bisa dijadikan alasan kuat untuk menganggap keduanya suami-istri. Lukas 8:1-3 memang mencatat Maria Magdalena bepergian bersama Yesus, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ayat itu juga mencatat nama-nama wanita lain, yaitu Susana dan Yohana. Kalau mau konsisten, kita juga harus mengakui bahwa Yesus menganut poligami. Seandainya Maria Magdalena adalah istri yang menyertai Yesus, bukankah Lukas pasti akan menghilangkan nama-nama wanita lain dalam Lukas 8:1-3?
Sama dengan ayat di atas, Alkitab biasanya menyebut Maria Magdalena dalam hubungan dengan wanita lain: ia dan wanita-wanita lain bepergian bersama Yesus (Luk 8:1-3), menyertai Yesus ke kayu salib (Mat 27:55-56//Mar 15:40-41; Yoh 19:25) dan tetap ada di sana (Mat 27:61). Satu-satunya ayat yang menyebut Maria Magdalena muncul sendirian dengan Yesus adalah Yohanes Yohanes 20:11-18. Tindakan Maria yang memeluk Yesus dalam teks ini memang tidak wajar dalam kultur Yahudi, namun hal ini bisa dipahami sebagai spontanitas Maria sebagai luapan keterkejutan dan kegembiraan bahwa Yesus masih hidup (ia sebelumnya tidak memiliki pikiran bahwa Yesus akan bangkit kembali).
Sekarang mari kita melihat beberapa teks yang menyiratkan bahwa Yesus tidak menikah dengan Maria Magdalena. Pertama, Maria Magdalena tidak pernah dikaitkan dengan nama seorang pria. Teks yang penting adalah Matius 27:55-56, Markus 15:40-41, Lukas 8:2 dan Yohanes 19:25. Nama-nama wanita dalam teks ini muncul dalam hubungan dengan suami atau anak mereka, tetapi khusus untuk Maria Magdalena ia diterangkan dengan asal usulnya, yaitu Magdala (Magdalena). Seandainya ia sudah menikah atau memiliki anak, ia pasti akan disebut seperti wanita-wanita lain dalam teks-teks tersebut.
Kedua, 1 Korintus 9:4-6. Dalam bagian ini Paulus memberikan argumen bahwa ia sebenarnya layak untuk mendapatkan bantuan dari jemaat untuk pelayanannya. Secara khusus ia mengatakan bahwa ia memiliki hak yang sama dengan Petrus dan para rasul lain yang membawa istri mereka. Seandainya Yesus memang menikah dengan Maria Magdalena dan mereka sering bepergian bersama, maka Paulus pasti akan menyebutkan hal itu sebagai dasar argumen yang lebih kuat untuk menegaskan pendapatnya.
Ketiga, Yohanes 19:26-27. Teks ini mencatat salah satu fase hidup yang penting, yaitu penyaliban-Nya. Di dekat salib, beberapa wanita mengikuti Yesus, termasuk ibunya, Maria. Seandainya Yesus sudah menikah, kita bertanya-tanya mengapa “istri” Yesus tidak hadir pada saat yang krusial ini. Alkitab juga mencatat bahwa Yesus memperhatikan ibu dengan cara menyerahkannya dalam pemeliharaan Yohanes. Seandainya Maria Magdalena adalah istri, bukankah Yesus seharusnya lebih memperhatikan dia atau, paling tidak, memperhatikan dia dan ibunya sekaligus?
Keempat, anggota keluarga Yesus disebut beberapa kali dalam Alkitab. Ayah, ibu dan saudara-saudara-Nya muncul beberapa kali (Mat 1:18-25; Mar 6:3; Yoh 7:3). Seandainya Yesus menikah dengan Maria Magdalena, Alkitab pasti akan menyebutkan istri-Nya itu, walaupun mungkin cuma sekali. Kenyataannya, semua keluarga Yesus disebut berkali-kali dalam Alkitab, tetapi “istri”-Nya tidak pernah disebut sekalipun. Dengan demikian, tudingan Dan Brown dan “The Da Vinci Code”-nya bahwa Yesus menikah hanyalah sebuah dongeng murahan yang tidak berdasar.
Untuk menjawab pandangan DVC di atas, kita perlu memaparkan beberapa hal. Usaha kanonisasi pada abad ke-4 bukanlah usaha awal untuk menentukan kitab-kitab yang diterima gereja. Dari tulisan bapa-bapa gereja sebelum abad ke-4 terlihat bahwa kitab-kitab kanonik sebenarnya sudah diterima secara praktis di gereja dalam bentuk pemakaian kitab-kitab tersebut dalam pembacaan publik di ibadah. Pembacaan dalam ibadah ini berakar dari ibadah Yahudi di synagoge dan bait Allah (band. Luk 4:16-21; 1Tim 4:13). Secara khusus berkaitan dengan keempat kitab Injil, dokumen kuno sebelum abad ke-4 sudah mengakui otoritas kitab-kitab tersebut, misalnya Diatesseron. Jadi, penerimaan kitab-kitab kanonik sebagai firman Allah sudah dilakukan secara non-formal jauh sebelum gereja memegang dominasi pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinopel. Kanonisasi hanyalah keputusan resmi (formal) dan menyeluruh dari gereja-gereja yang ortodoks.
Kebutuhan gereja untuk mengetahui dengan jelas kitab apa saja yang merupakan firman Allah tidak bisa dilepaskan dari situasi gereja pada abad ke-2 dan ke-3. Mereka berada di bawah penganiayaan yang hebat. Kepemilikan kitab suci bisa menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk menangkap orang Kristen. Di tengah situasi seperti ini mereka merasa perlu mengetahui kitab-kitab mana yang benar-benar firman Allah, karena pada saat itu kitab-kitab lain juga banyak bermunculan. Mereka ingin diyakinkan bahwa mereka membayar harga mahal untuk firman Allah, bukan untuk kitab-kitab lain yang tidak berotoritas. Selain itu, keberadaan berbagai bidat pada masa itu juga mendorong gereja untuk memiliki pedoman yang jelas yang benar-benar meneruskan ajaran para rasul.
Kita juga perlu memahami bahwa pertentangan dengan ajaran yang tidak sesuai dengan ortodoksi bukan dimulai pada abad ke-4. Pada masa gereja masih menjadi minoritas pada abad ke-2 dan ke-3, bapa-bapa gereja sudah menentang ajaran yang dianggap tidak ortodoks. The Muratorian Canon (abad ke-2) secara eksplisit menyatakan tulisan-tulisan Valentinus dan Marcion harus dibuang dari gereja. Irenaeus (abad ke-2) menulis kitab Against Heresies untuk menegaskan tradisi kekristenan dan sekaligus menentang para bidat.
Hal lain yang perlu kita pahami adalah kriteria kanonisasi. Bagaimana gereja di abad ke-2 dan ke-3 memilih kitab-kitab mana yang pantas dibaca di dalam ibadah? Bagaimana konsili menentukan kitab-kitab mana yang layak dianggap sebagai kanon (pedoman)? Jawaban terhadap pertanyaan ini ada tiga: (1) Kriteria tradisi. Suatu kitab diakui sebagai firman Allah yang berotoritas jika sejak jaman para rasul kitab itu memang sudah diterima oleh gereja mula-mula secara universal. Kriteria ini berhubungan dengan eksistensi para rasul dan gereja induk di Yerusalem sebagai alat kontrol (band. Kis 11 dan 15). Seandainya suatu kitab sejak jaman para rasul memang beredar secara luas dan dipakai dalam ibadah, maka itu berarti kitab tersebut mendapat “pengesahan” dari para rasul sebagai firman Allah. Dari kriteria ini terlihat bahwa kanonisasi justru berakar pada situasi abad pertama ketika orang Kristen masih menjadi minoritas dan dianiaya. Kriteria ini sekaligus juga menolak kitab-kitab non-kanonik yang baru ditulis mulai abad ke-2 dan ditolak oleh bapa-bapa gereja. (2) Kriteria wibawa apostolik. Allah menyatakan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Para rasul merupakan saksi mata dan penerus tradisi dari Yesus. Dua hal inilah yang turut melandasi kanonisasi. Suatu kitab diakui sebagai firman Allah kalau memang bersumber dari para rasul sebagai saksi mata dan penerima ajaran Yesus pertama kali. Berdasarkan kriteria ini, kitab-kitab non-kanonik dengan sendirinya tidak memenuhi syarat, karena mereka ditulis jauh setelah masa hidup para rasul. (3) Kriteria ortodoksi. Suatu kitab yang diakui dalam kanon tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan wahyu Allah sebelumnya maupun kitab yang lain, karena Allah adalah sumber pengilhaman kitab suci. Alkitab tidak mungkin mengandung kontradiksi. Pandangan DVC bahwa kitab-kitab non-kanonik ditolak gereja karena bertentangan dengan ajaran ortodoks tidak bisa dipertahankan. Pandangan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa gereja seharusnya menerima kitab lain yang bertentangan sekalipun.
Sekarang mari kita membahas klaim dalam DVC bahwa doktrin keilahian Yesus baru diciptakan gereja pada abad ke-4 (Konsili Nicea) untuk mengaburkan figur Yesus yang sebenarnya hanyalah manusia biasa yang menikah, mempunyai anak dan bisa mati. Pengakuan terhadap keilahian Yesus sebenarnya sudah muncul pada abad ke-1. Dalam bagian ini saya tidak akan memberikan ayat-ayat dari kitab Injil, karena hal itu bisa dianggap tendensius dan bersifat circular reasoning (kita sedang mendiskusikan validitas catatan tentang Yesus dalam kitab-kitab Injil, tetapi kita menggunakan kitab tersebut sebagai dasar argumen). Ada beberapa teks yang signifikan. Dalam Galatia 1:11-24 (yang ditulis sekitar tahun 50-an), Paulus membuktikan bahwa Injil yang ia beritakan berakar dari ajaran yang bersumber dari Yesus sendiri melalui para rasul maupun pertemuan pribadinya dengan Tuhan di Damaskus (Kis 9). Rujukan penting lainnya ada di Filipi 2:6-11. Paulus mengutip hymne gereja mula-mula yang menyinggung keilahian Yesus (ayat 6-8) dan mengaplikasikan Yesaya 45:23 untuk Yesus. Karena ayat paling awal tentang keilahian Yesus terdapat dalam Filipi 2:9-11, ketika ia mengutip sebuah hymne. Dari pemaparan ini terlihat bahwa doktrin keilahian Yesus bukanlah ciptaan gereja abad ke-4.
Asumsi DVC bahwa doktrin keilahian Yesus sengaja diciptakan untuk menghilangkan sisi kemanusiaan Yesus juga tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kitab-kitab Injil mengajarkan kemanusiaan Yesus. Ia lahir dari seorang manusia, bertumbuh seperti anak-anak pada umumnya, merasakan lapar dan haus, bahkan mati. Seandainya Yesus memang menikah dan mempunyai anak, hal ini tidak akan membahayakan keilahian Yesus. Hal ini bahkan semakin memperkuat ajaran Alkitab tentang kemanusiaan Yesus.
Apakah Yesus menikah?
DVC mengajarkan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Dasar yang dipakai adalah kutipan dari Injil Filipus (hlm. 246-247) dan asumsi bahwa selibat bukanlah praktek yang bernuansa Yahudi (hlm. 245). Sebagai orang Yahudi, Yesus pasti menikah. Alasan pertama tidak akan dibahas dalam bagian ini, karena telah disinggung dalam bagian sebelumnya. Bagian ini hanya akan menanggapi alasan kedua yang dipakai DVC. Kita juga akan melihat beberapa teks yang berhubungan dengan kemungkinan apakah Yesus menikah atau tidak.
Sehubungan dengan asumsi Brown tentang keharusan orang Yahudi yang saleh untuk menikah, kita perlu mengetahui bahwa pada jaman Yesus ada sekelompok orang Yahudi yang saleh yang justru tidak menikah. Mereka dikenal sebagai masyarakat Qumran dan kaum Essenes. Naskah Laut Mati dan kitab sejarah Josephus menegaskan bahwa dua kelompok tersebut menganut gaya hidup selibat. Yesus sendiri mengakui keistimewaan gaya hidup ini dalam kaitan dengan fokus untuk kerajaan Allah (Mat 19:10-12).
Catatan Alkitab yang mengajarkan bahwa Maria Magdalena ikut bepergian bersama Yesus tidak bisa dijadikan alasan kuat untuk menganggap keduanya suami-istri. Lukas 8:1-3 memang mencatat Maria Magdalena bepergian bersama Yesus, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ayat itu juga mencatat nama-nama wanita lain, yaitu Susana dan Yohana. Kalau mau konsisten, kita juga harus mengakui bahwa Yesus menganut poligami. Seandainya Maria Magdalena adalah istri yang menyertai Yesus, bukankah Lukas pasti akan menghilangkan nama-nama wanita lain dalam Lukas 8:1-3?
Sama dengan ayat di atas, Alkitab biasanya menyebut Maria Magdalena dalam hubungan dengan wanita lain: ia dan wanita-wanita lain bepergian bersama Yesus (Luk 8:1-3), menyertai Yesus ke kayu salib (Mat 27:55-56//Mar 15:40-41; Yoh 19:25) dan tetap ada di sana (Mat 27:61). Satu-satunya ayat yang menyebut Maria Magdalena muncul sendirian dengan Yesus adalah Yohanes Yohanes 20:11-18. Tindakan Maria yang memeluk Yesus dalam teks ini memang tidak wajar dalam kultur Yahudi, namun hal ini bisa dipahami sebagai spontanitas Maria sebagai luapan keterkejutan dan kegembiraan bahwa Yesus masih hidup (ia sebelumnya tidak memiliki pikiran bahwa Yesus akan bangkit kembali).
Sekarang mari kita melihat beberapa teks yang menyiratkan bahwa Yesus tidak menikah dengan Maria Magdalena. Pertama, Maria Magdalena tidak pernah dikaitkan dengan nama seorang pria. Teks yang penting adalah Matius 27:55-56, Markus 15:40-41, Lukas 8:2 dan Yohanes 19:25. Nama-nama wanita dalam teks ini muncul dalam hubungan dengan suami atau anak mereka, tetapi khusus untuk Maria Magdalena ia diterangkan dengan asal usulnya, yaitu Magdala (Magdalena). Seandainya ia sudah menikah atau memiliki anak, ia pasti akan disebut seperti wanita-wanita lain dalam teks-teks tersebut.
Kedua, 1 Korintus 9:4-6. Dalam bagian ini Paulus memberikan argumen bahwa ia sebenarnya layak untuk mendapatkan bantuan dari jemaat untuk pelayanannya. Secara khusus ia mengatakan bahwa ia memiliki hak yang sama dengan Petrus dan para rasul lain yang membawa istri mereka. Seandainya Yesus memang menikah dengan Maria Magdalena dan mereka sering bepergian bersama, maka Paulus pasti akan menyebutkan hal itu sebagai dasar argumen yang lebih kuat untuk menegaskan pendapatnya.
Ketiga, Yohanes 19:26-27. Teks ini mencatat salah satu fase hidup yang penting, yaitu penyaliban-Nya. Di dekat salib, beberapa wanita mengikuti Yesus, termasuk ibunya, Maria. Seandainya Yesus sudah menikah, kita bertanya-tanya mengapa “istri” Yesus tidak hadir pada saat yang krusial ini. Alkitab juga mencatat bahwa Yesus memperhatikan ibu dengan cara menyerahkannya dalam pemeliharaan Yohanes. Seandainya Maria Magdalena adalah istri, bukankah Yesus seharusnya lebih memperhatikan dia atau, paling tidak, memperhatikan dia dan ibunya sekaligus?
Keempat, anggota keluarga Yesus disebut beberapa kali dalam Alkitab. Ayah, ibu dan saudara-saudara-Nya muncul beberapa kali (Mat 1:18-25; Mar 6:3; Yoh 7:3). Seandainya Yesus menikah dengan Maria Magdalena, Alkitab pasti akan menyebutkan istri-Nya itu, walaupun mungkin cuma sekali. Kenyataannya, semua keluarga Yesus disebut berkali-kali dalam Alkitab, tetapi “istri”-Nya tidak pernah disebut sekalipun. Dengan demikian, tudingan Dan Brown dan “The Da Vinci Code”-nya bahwa Yesus menikah hanyalah sebuah dongeng murahan yang tidak berdasar.
DEKODENISASI "THE DA VINCI CODE" (Part 2)
Yakub Tri Handoko, Th. M
The Priory of Sion
The Priory of Sion
Seperti
yang sudah disinggung di awal tulisan ini, Brown secara eksplisit
menyatakan bahwa catatan tentang beberapa organisasi/sekte dalam DVC
(The Priory of Sion dan Opus Dei) sebagai fakta. Sejauh mana batasan
“fakta” yang dimaksud Brown di sini? Bagian ini hanya akan menganalisa
eksistensi The Priory of Sion, karena organisasi ini menjadi dasar dan
pusat cerita DVC. The Knight Templar dan Opus Dei hanya ditampilkan
Brown sebagai pelengkap cerita saja. Seandainya The Priory of Sion
memang pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena dan bahwa
Leonardo Da Vinci pernah menjadi anggotanya, maka cerita DVC memiliki
benang merah yang sangat masuk akal. Sebaliknya, seandainya keterangan
Brown salah (terutama tentang keanggotaan Da Vinci), maka novel/film
Brown akan kehilangan inti cerita, yaitu kode Da Vinci. Dengan kata
lain, seandainya Da Vinci bukan anggota The Priory of Sion, maka DVC
dari sisi historis sudah gagal sejak awal.
Apakah sekte The Priory of Sion sungguh-sungguh ada? Benarkah organisasi ini merupakan pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena melalui indikasi-indikasi implisit dalam berbagai tulisan kuno, lukisan dan arsitektur? Untuk meneliti ini sebaiknya dimulai dari pernyataan Brown sendiri bahwa “faktualitas” The Priory of Sion ia dapatkan dari perkamen di Paris’ Bibliotheque Nationale yang disebut Les Dossiers Secrets. Dalam hal ini Brown sangat dipengaruhi oleh buku Holy Blood Holy Grail yang juga memakai Les Dossiers Secrets sebagai dasar teori mereka. Di sinilah letak kesalahan terbesar Brown. Les Dossiers Secrets adalah dokumen palsu.
Eksistensi perkamen tersebut secara historis dapat ditelusuri sampai pada tahun 1950-an. Seorang berkebangsaan Prancis yang bernama Pierre Plantard mendirikan sebuah kelompok sosial yang kecil pada tahun 1954 yang ia beri nama The Priory of Sion. Tujuan dari organisasi ini adalah mengusahakan perumahan yang murah di negara Prancis. Tahun 1957 organisasi ini bubar, tetapi namanya tetap disangkutpautkan dengan Plantard. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Plantard mengumpulkan dokumen-dokumen yang “membuktikan” teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena, yang dipercaya sebagai cikal-bakal keturunan raja-raja Prancis yang disebut dinasti Merovingian. Plantard sendiri mengklaim bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Yesus-Maria Magdalena. Untuk menyukseskan pendirian monarki Prancis, ia merekrut sejumlah pengikut dan mempopulerkan teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena dengan cara meletakkan perkamen-perkamen itu di Bibliotheque Nationale. Beberapa waktu setelah itu, salah seorang sahabat president Prancis terlibat dalam masalah hukum dan Plantard dipanggil untuk memberikan kesaksian terkait dengan Les Dossiers Secrets. Di bawah sumpah ketika dia ditanya di pengadilan ia mengakui bahwa ia mengarang semua cerita dalam dokumen tersebut. Temannya juga menegaskan pengakuan ini. Semua ini telah dicatat dalam banyak buku di Prancis (lihat James Garlow and Peter Jones, Cracking Da Vinci's Code, hlm. 112).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa organisasi The Priory of Sion memang pernah ada, tetapi bukan seperti yang digambarkan dalam DVC. Tidak ada rahasia besar yang diteruskan oleh organisasi ini. Dengan demikian, keterangan tentang keanggotaan Da Vinci dalam organisasi ini juga fiktif, sehingga yang namanya “Da Vinci Code” juga tidak pernah ada.
Kode dalam karya Da Vinci
Inti lain dari DVC adalah keyakinan Brown bahwa Da Vinci menyimpan kode-kode tertentu dalam beberapa karyanya yang mengarah pada pernikahan Yesus-Maria Magdalena. Ia juga mengutip “pernyataan Da Vinci” yang terkesan negatif terhadap akurasi Perjanjian Baru maupun tradisi dalam gereja. Benarkah Da Vinci adalah seorang yang radikal dalam hal doktrin (iman)?
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah konteks jaman Renaissance pada abad ke-15 di mana Da Vinci hidup. Masa ini ditandai dengan timbulnya semangat mempelajari tulisan-tulisan kuno Yunani-Romawi dan cara pandang humanisme. Dua hal ini, ditambah dengan dekadensi moral di kalangan rohaniwan, pada akhirnya menimbulkan sikap negatif terhadap gereja. Da Vinci juga ofensif terhadap gereja, tetapi bukan seperti yang digambarkan Brown. Da Vinci hanya menyerang dekadensi moral dan kemewahan hidup para rohaniwan waktu itu.
Bagaimana dengan tulisan Da Vinci yang menganggap Perjanjian Baru berisi angan-angan dan mujizat palsu yang menipu banyak orang (hlm. 231)? Brown ternyata telah mengutip pernyataan Da Vinci lepas dari konteksnya (out of context). Pernyataan Da Vinci yang dikutip Brown tidak berhubungan dengan Perjanjian Baru sama sekali. Brown hanya mengambil beberapa kata dari pernyataan Da Vinci tentang masalah kimiawi (bahan/zat). Yang dimaksud penipuan oleh Da Vinci adalah pandangan tradisional yang menganggap air raksa adalah benih dari setiap logam.
Hal kedua yang penting untuk dibahas adalah “kode” dalam lukisan Mona Lisa. Brown menyatakan bahwa ada perpaduan (kesejajaran) antara laki-laki dan perempuan dalam lukisan Mona Lisa (hlm. 120). Ia bahkan menyatakan bahwa nama “Mona Lisa” merupakan sebuah anagram yang merujuk pada dewa-dewa kesuburan Mesir kuno yang bernama dewa Amon dan dewi Isis (yang dalam piktograf disebut L’ISA). Dalam hal ini Brown telah melakukan kesalahan yang fatal. Da Vinci tidak pernah memberi nama lukisannya. Tidak heran, beragam orang menyebut lukisan “Mona Lisa” dengan beragam nama. Sebutan “Mona Lisa” sendiri baru muncul dalam buku karangan Giorgio Vasari tahun 1550 yang berjudul The Lives of the Artist. Jadi, nama “Mona Lisa” baru ada sekitar 30 tahun setelah kematian Da Vinci.
Selain itu, teori anagram Brown juga defektif. Dewa Amon (Ammon atau Amun) adalah dewa matahari yang tidak secara khusus berhubungan dengan kesuburan. Pada waktu dewa Amon dihubungkan dengan seorang dewi, ia disandingkan dengan dewi Muth (bukan Isis).
Lukisan lain yang paling penting dan menjadi inti kode Da Vinci adalah The Last Supper. Menurut Brown, figur di sebelah kanan Yesus adalah Maria Magdalena, karena wajahnya tampak feminin. Hal ini dipertegas dengan posisi Yesus dan Maria Magdalena yang membentuk huruf “V” (simbol rahim/wanita). Petrus sendiri digambarkan seperti sedang mengancam Maria Magdalena dengan posisi tangannya yang sedang memegang pisau di dekat leher Maria Magdalena. Brown juga memberi penekanan pada ketidakadaan cawan perjamuan yang ia percayai dimaksudkan Da Vinci untuk memberitahu bahwa cawan darah perjanjian yang sejati adalah Maria Magdalena.
Tafsiran Brown di atas sangat spekulatif dan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Da Vinci. Hal terpenting yang perlu diketahi adalah bahwa lukisan ini tidak berbicara tentang perjamuan terakhir ketika Yesus membagikan roti dan anggur sebagai tanda pengorbanannya. Lukisan ini mengisahkan momen ketika Yesus memberitahu siapa yang akan mengkhianati Dia (Yoh 13:21-24). Hal ini didukung oleh beberapa bukti: (1) semua murid saling menanyakan satu kepada yang lain; (2) Petrus menanyai seorang murid yang duduk di sebelah kanan Yesus. Karena momen yang dicatat adalah perjamuan terakhir versi Yohanes, maka tidak ada catatan tentang cawan, karena dalam Yohanes 13 Yesus memang tidak membagikan roti dan anggur.
Tafsiran di atas sekaligus bisa menjelaskan posisi Yesus dan figur yang ada di sebelah kanannya (menurut Yohanes 13:23 figur ini adalah Yohanes). Posisi Yohanes (atau Maria Magdalena menurut Brown) yang agak condong ke kanan berguna untuk menunjukkan sebuah harmoni, yaitu murid-murid dikelompokkan ke dalam 4 grup masing-masing terdiri dari 3 orang. Selain itu, posisi ini juga penting untuk menampilkan Yesus sebagai pusat dari lukisan ini. Yesus berada di tengah dan tampak sendirian (terpisah) dari empat kelompok murid yang ada.
Sehubungan dengan identitas figur di sebelah kanan Yesus, dia pasti salah seorang dari 12 murid. Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa pada saat perjamuan terakhir 12 murid bersama dengan Yesus, baru setelah itu Yudas pergi meninggalkan mereka (Yoh 13:27-30). Seandainya figur itu adalah Maria Magdalena, hal ini akan meninggalkan sebuah pertanyaan tentang siapa di antara 12 murid yang tidak hadir pada waktu momen penting tersebut.
Tentang figur Yohanes yang tampak feminin, hal ini harus dipahami dalam konteks jaman Renaissance. Orang-orang pada jaman itu terbiasa menggambarkan figur “murid yang ideal” dengan wajah yang tampak sangat muda, rambut yang panjang dan wajah yang bersih dari kumis dan jenggot. Gambaran ini berguna untuk menunjukkan bahwa seorang murid masih belum berpengalaman dan perlu terus bersama dengan gurunya. Tidak heran, wajah Yohanes dalam beberapa lukisan jaman Renaissance juga memiliki penampilan yang hampir sama dengan yang ada di lukisan The Last Supper. Gambaran tentang murid yang ideal untuk Yohanes sangat sesuai dengan karakter Yohanes di Injil Yohanes. Ia disebut dengan “murid yang dikasihi Tuhan” dan paling cepat memahami sesuatu (Yoh 20:2, 4, 8; 21:7, 20).
Maria Magdalena di luar Alkitab
Figur Maria Magdalena memiliki peranan sangat sentral dalam DVC. Secara umum dapat dikatakan bahwa misteri yang ingin diungkap dalam DVC berpusat pada Maria Magdalena (dan Yesus). Gambaran “baru” tentang Maria Magdalena dalam DVC berhubungan dengan pemunculan Maria Magdalena dalam tulisan bapa gereja dan naskah-naskah kuno yang beraliran Gnostik.
Datum pertama terdapat dalam tulisan bapa gereja Hippolytus, abad ke-3, dalam tafsiran Kidung Agung 24-26. Ia menulis “supaya rasul-rasul wanita tidak meragukan malaikat-malaikat, Kristus sendiri datang kepada mereka supaya mereka menjadi rasul-rasul Kristus dan dengan ketaatan mereka memperbaiki dosa Hawa yang dulu...Kristus datang kepada rasul-rasul laki-laki dan berkata kepada mereka:...’Akulah yang menampakkan diri kepada wanita-wanita ini dan Akulah yang mengirim mereka kepadamu sebagai rasul [dari para rasul]’”.
Teks berikutnya yang penting adalah Injil Filipus 63:32-64:10. Bagian yang paling kontroversial terdapat dalam pasal 63:33-36 “dan teman/istri dari [....] Maria Magdalena. [...mengasihi] dia lebih daripada [semua] murid dan [terbiasa] mencium dia [sering] pada [...]nya”. Tanda kurung di atas menunjukkan bagian yang hilang dari naskah kuno yang ditemukan, sehingga menimbulkan spekulasi beragam dari para sarjana. Berdasarkan konteks bagian ini, konteks Injil Filipus secara umum (terutama pasal 58-59) dan ukuran bagian yang hilang para sarjana mencoba merekonstruksi kata apa yang telah hilang. Mereka umumnya merekonstruksi seluruh teks di atas sebagai berikut : “dan teman (istri) dari Juru Selamat Maria Magdalena mengasihi dia lebih daripada semua murid yang lain dan terbiasa mencium dia sering pada mulutnya”. Rekonstruksi seperti ini dianggap menyiratkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.
Teks terakhir berasal dari kitab yang ditulis pada abad ke-2, yang bernama Injil Maria Magdalena. Bagian yang sangat kontroversial adalah Injil Maria 17:10-18:21 yang berbunyi sebagai berikut : “Tetapi Andreas menjawab dan berkata kepada saudara-saudara, “katakan apa yang ingin kalian katakan tentang apa yang telah ia (Maria Magdalena) katakan. Aku setidaknya tidak percaya kalau Juru Selamat mengatakan seperti itu, karena ajaran-ajaran itu jelas merupakan hal yang aneh”. Petrus menjawab dan mengatakan hal yang sama. Ia menanyakan mereka tentang Juru Selamat: “apakah Ia sungguh-sungguh berbicara dengan seorang wanita tanpa pengetahuan kita dan tidak secara publik? Akankah kita berpaling dan semua mendengarkan dia (Maria Magdalena)? Apakah Ia lebih memilih dia daripada kita?” Lalu Maria meratap dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau pikirkan? Apakah engkau berpikir bahwa aku sendiri telah memikirkan hal ini atau aku sedang berdusta tentang Juru Selamat?” Lewi menjawab dan berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu temperamental. Sekarang aku melihat engkau menentang seorang wanita seperti musuh. Tetapi jika Juru Selamat membuat dia layak, akankah engkau sungguh-sungguh menolaknya? Juru Selamat tentu mengenal dia sangat baik. Itulah sebabnya Ia mengasihi dia lebih daripada kita. Sebaliknya, biarlah kita malu dan memakai Manusia sempurna, berpisah sebagaimana Ia memerintahkan kita dan memberitakan Injil, tidak meletakkan hukum atau peraturan lain selain apa yang Juru Selamat katakan”.
Sebelum membahas teks-teks tersebut secara detil, ada beberapa penjelasan dalam DVC yang perlu ditambahkan sehubungan dengan isu kepemimpinan Maria Magdalena. Brown menganggap sumber kuno di atas sebagai bukti atau dasar untuk mengetahui hubungan Yesus dan Maria Magdalena yang sebenarnya. Kanonisasi yang dilakukan gereja pada abad ke-4 (setelah gereja memiliki kekuatan karena dijadikan agama negara) merupakan cara untuk menyingkirkan “sumber-sumber terpercaya” ini dan untuk memberi legitimasi pada kitab-kitab yang sejalan dengan ajaran gereja. Usaha ini selanjutnya didukung oleh berbagai konsili (terutama Konsili Nicea, tahun 325) yang menghasilkan kredo yang menampilkan keilahian Yesus.
Bagaimana meresponi catatan-catatan kuno di atas? Pertama, tentang catatan Hippolytus. Untuk memperjelas masalah, perlu diketahui bahwa frase “rasul dari para rasul” tidak ada dalam tulisan Hippolytus. Tambahan “dari para rasul” baru muncul pada abad ke-10. Hippolytus memang menyebut Maria Magdalena sebagai rasul wanita. Hal ini sesuai dengan catatan kitab-kitab Injil yang menceritakan tentang penampakan diri Yesus kepada Maria Magdalena dan pengutusan Yesus supaya Maria Magdalena pergi kepada para murid (band. Yoh 20:17). Dari sini terlihat bahwa sebelum Konsili Nicea, gereja mula-mula dan bapa-bapa gereja dari kalangan ortodoks tetap mengakui posisi Maria Magdalena sebagai rasul.
Apakah hal itu berarti pandangan Brown benar? Perlu diperhatikan, kutipan Hippolytus tidak berbicara secara khusus tentang Maria Magdalena. Bentuk jamak yang dikenakan pada rasul-rasul wanita dalam kutipan ini menunjukkan bahwa Hippolytus memikirkan perempuan-perempuan lain juga sebagai rasul. Namun, apakah maksud istilah “rasul” di sini? Dalam Perjanjian Baru, kata rasul (apostolos) bisa merujuk pada tiga kelompok: 12 murid (Mat 10:2//Luk 6:13), orang-orang tertentu yang memegang kepempinan dalam gereja secara resmi (misalnya Paulus dan Barnabas, Kis 14:14; Rom 1:1) dan orang-orang Kristen secara umum yang memberitakan Injil (1Kor 9:5-6; 2Kor 8:3, 23; Flp 2:25). Dari konteks kutipan Hippolytus terlihat bahwa “rasul-rasul wanita” adalah mereka yang melihat peristiwa kebangkitan dan diutus memberitakan kabar baik. Jadi, “rasul” di sini tidak berhubungan dengan posisi formal kepemimpinan dalam gereja. Seandainya ini diterima, maka tidak ada yang istimewa dalam kutipan Hippolytus, karena Perjanjian Baru juga menyebut beberapa wanita sebagai rasul maupun nabi, misalnya Yunias (Rom 16:7), anak-anak Filipus (Kis 21:9).
Kedua, tentang Injil Filipus. Ada beberapa hal yang memicu perdebatan para sarjana. Yang terutama adalah arti kata koinonos dalam frase “teman/istri dari [Juru Selamat]”. Kata “koinonos” bisa berarti teman atau istri. Berdasarkan pemakaian kata ini dalam literatur Yunani, koinonos sebaiknya dipahami sebagai teman. Seandainya yang dimaksud adalah “istri”, maka penulis Injil Filipus pasti akan memakai kata yang lebih umum, yaitu “gunh”.
Hal lain yang perlu dibahas adalah ciuman Yesus kepada Maria Magdalena. Kita perlu memahami bahwa tulisan-tulisan Gnostik penuh dengan simbol. Maria Magdalena sendiri dalam Injil Filipus digambarkan sebagai Sang Hikmat, ibu dari para malaikat dan saudara perempuan dari Juru Selamat. Berdasarkan pemahaman tentang genre dan teologi Gnostik ini, kita sebaiknya memahami ciuman Yesus “di bibir” (seandainya kata yang hilang memang demikian) dalam kitab ini secara simbolis, yaitu penerusan firman. Hal ini bisa dipahami karena figur Maria Magdalena sebagai Sang Hikmat. Kasih Yesus kepada Maria Magdalena yang melebihi murid-murid lain bisa dimengerti dengan mudah apabila dikaitkan dengan posisi Maria Magdalena secara mistis dalam tulisan Gnostik.
Ketiga, tentang Injil Maria Magdalena. Sebagaimana dalam tulisan Gnostik lainnya, kitab ini juga memiliki ungkapan-ungkapan yang simbolis dan misterius. Tidak terkecuali Injil Maria Magdalena 17:10-18:21. Teks ini menggambarkan pertentangan antara aliran ortodoks (diwakili oleh Petrus) dan aliran minoritas lain (diwakili tokoh wanita Maria Magdalena). Pertentangan ini juga hanya berhubungan dengan wahyu Allah, bukan jabatan gerejawi. Kaum Gnostik menganggap diri sebagai penerima pengetahuan yang rahasia dari Kristus, sedangkan pengetahuan ini bertentangan dengan ajaran gereja pada umumnya. Jadi, teks ini sama sekali tidak membicarakan tentang perebutan posisi kepemimpinan dalam gereja.
Apakah sekte The Priory of Sion sungguh-sungguh ada? Benarkah organisasi ini merupakan pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena melalui indikasi-indikasi implisit dalam berbagai tulisan kuno, lukisan dan arsitektur? Untuk meneliti ini sebaiknya dimulai dari pernyataan Brown sendiri bahwa “faktualitas” The Priory of Sion ia dapatkan dari perkamen di Paris’ Bibliotheque Nationale yang disebut Les Dossiers Secrets. Dalam hal ini Brown sangat dipengaruhi oleh buku Holy Blood Holy Grail yang juga memakai Les Dossiers Secrets sebagai dasar teori mereka. Di sinilah letak kesalahan terbesar Brown. Les Dossiers Secrets adalah dokumen palsu.
Eksistensi perkamen tersebut secara historis dapat ditelusuri sampai pada tahun 1950-an. Seorang berkebangsaan Prancis yang bernama Pierre Plantard mendirikan sebuah kelompok sosial yang kecil pada tahun 1954 yang ia beri nama The Priory of Sion. Tujuan dari organisasi ini adalah mengusahakan perumahan yang murah di negara Prancis. Tahun 1957 organisasi ini bubar, tetapi namanya tetap disangkutpautkan dengan Plantard. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Plantard mengumpulkan dokumen-dokumen yang “membuktikan” teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena, yang dipercaya sebagai cikal-bakal keturunan raja-raja Prancis yang disebut dinasti Merovingian. Plantard sendiri mengklaim bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Yesus-Maria Magdalena. Untuk menyukseskan pendirian monarki Prancis, ia merekrut sejumlah pengikut dan mempopulerkan teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena dengan cara meletakkan perkamen-perkamen itu di Bibliotheque Nationale. Beberapa waktu setelah itu, salah seorang sahabat president Prancis terlibat dalam masalah hukum dan Plantard dipanggil untuk memberikan kesaksian terkait dengan Les Dossiers Secrets. Di bawah sumpah ketika dia ditanya di pengadilan ia mengakui bahwa ia mengarang semua cerita dalam dokumen tersebut. Temannya juga menegaskan pengakuan ini. Semua ini telah dicatat dalam banyak buku di Prancis (lihat James Garlow and Peter Jones, Cracking Da Vinci's Code, hlm. 112).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa organisasi The Priory of Sion memang pernah ada, tetapi bukan seperti yang digambarkan dalam DVC. Tidak ada rahasia besar yang diteruskan oleh organisasi ini. Dengan demikian, keterangan tentang keanggotaan Da Vinci dalam organisasi ini juga fiktif, sehingga yang namanya “Da Vinci Code” juga tidak pernah ada.
Kode dalam karya Da Vinci
Inti lain dari DVC adalah keyakinan Brown bahwa Da Vinci menyimpan kode-kode tertentu dalam beberapa karyanya yang mengarah pada pernikahan Yesus-Maria Magdalena. Ia juga mengutip “pernyataan Da Vinci” yang terkesan negatif terhadap akurasi Perjanjian Baru maupun tradisi dalam gereja. Benarkah Da Vinci adalah seorang yang radikal dalam hal doktrin (iman)?
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah konteks jaman Renaissance pada abad ke-15 di mana Da Vinci hidup. Masa ini ditandai dengan timbulnya semangat mempelajari tulisan-tulisan kuno Yunani-Romawi dan cara pandang humanisme. Dua hal ini, ditambah dengan dekadensi moral di kalangan rohaniwan, pada akhirnya menimbulkan sikap negatif terhadap gereja. Da Vinci juga ofensif terhadap gereja, tetapi bukan seperti yang digambarkan Brown. Da Vinci hanya menyerang dekadensi moral dan kemewahan hidup para rohaniwan waktu itu.
Bagaimana dengan tulisan Da Vinci yang menganggap Perjanjian Baru berisi angan-angan dan mujizat palsu yang menipu banyak orang (hlm. 231)? Brown ternyata telah mengutip pernyataan Da Vinci lepas dari konteksnya (out of context). Pernyataan Da Vinci yang dikutip Brown tidak berhubungan dengan Perjanjian Baru sama sekali. Brown hanya mengambil beberapa kata dari pernyataan Da Vinci tentang masalah kimiawi (bahan/zat). Yang dimaksud penipuan oleh Da Vinci adalah pandangan tradisional yang menganggap air raksa adalah benih dari setiap logam.
Hal kedua yang penting untuk dibahas adalah “kode” dalam lukisan Mona Lisa. Brown menyatakan bahwa ada perpaduan (kesejajaran) antara laki-laki dan perempuan dalam lukisan Mona Lisa (hlm. 120). Ia bahkan menyatakan bahwa nama “Mona Lisa” merupakan sebuah anagram yang merujuk pada dewa-dewa kesuburan Mesir kuno yang bernama dewa Amon dan dewi Isis (yang dalam piktograf disebut L’ISA). Dalam hal ini Brown telah melakukan kesalahan yang fatal. Da Vinci tidak pernah memberi nama lukisannya. Tidak heran, beragam orang menyebut lukisan “Mona Lisa” dengan beragam nama. Sebutan “Mona Lisa” sendiri baru muncul dalam buku karangan Giorgio Vasari tahun 1550 yang berjudul The Lives of the Artist. Jadi, nama “Mona Lisa” baru ada sekitar 30 tahun setelah kematian Da Vinci.
Selain itu, teori anagram Brown juga defektif. Dewa Amon (Ammon atau Amun) adalah dewa matahari yang tidak secara khusus berhubungan dengan kesuburan. Pada waktu dewa Amon dihubungkan dengan seorang dewi, ia disandingkan dengan dewi Muth (bukan Isis).
Lukisan lain yang paling penting dan menjadi inti kode Da Vinci adalah The Last Supper. Menurut Brown, figur di sebelah kanan Yesus adalah Maria Magdalena, karena wajahnya tampak feminin. Hal ini dipertegas dengan posisi Yesus dan Maria Magdalena yang membentuk huruf “V” (simbol rahim/wanita). Petrus sendiri digambarkan seperti sedang mengancam Maria Magdalena dengan posisi tangannya yang sedang memegang pisau di dekat leher Maria Magdalena. Brown juga memberi penekanan pada ketidakadaan cawan perjamuan yang ia percayai dimaksudkan Da Vinci untuk memberitahu bahwa cawan darah perjanjian yang sejati adalah Maria Magdalena.
Tafsiran Brown di atas sangat spekulatif dan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Da Vinci. Hal terpenting yang perlu diketahi adalah bahwa lukisan ini tidak berbicara tentang perjamuan terakhir ketika Yesus membagikan roti dan anggur sebagai tanda pengorbanannya. Lukisan ini mengisahkan momen ketika Yesus memberitahu siapa yang akan mengkhianati Dia (Yoh 13:21-24). Hal ini didukung oleh beberapa bukti: (1) semua murid saling menanyakan satu kepada yang lain; (2) Petrus menanyai seorang murid yang duduk di sebelah kanan Yesus. Karena momen yang dicatat adalah perjamuan terakhir versi Yohanes, maka tidak ada catatan tentang cawan, karena dalam Yohanes 13 Yesus memang tidak membagikan roti dan anggur.
Tafsiran di atas sekaligus bisa menjelaskan posisi Yesus dan figur yang ada di sebelah kanannya (menurut Yohanes 13:23 figur ini adalah Yohanes). Posisi Yohanes (atau Maria Magdalena menurut Brown) yang agak condong ke kanan berguna untuk menunjukkan sebuah harmoni, yaitu murid-murid dikelompokkan ke dalam 4 grup masing-masing terdiri dari 3 orang. Selain itu, posisi ini juga penting untuk menampilkan Yesus sebagai pusat dari lukisan ini. Yesus berada di tengah dan tampak sendirian (terpisah) dari empat kelompok murid yang ada.
Sehubungan dengan identitas figur di sebelah kanan Yesus, dia pasti salah seorang dari 12 murid. Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa pada saat perjamuan terakhir 12 murid bersama dengan Yesus, baru setelah itu Yudas pergi meninggalkan mereka (Yoh 13:27-30). Seandainya figur itu adalah Maria Magdalena, hal ini akan meninggalkan sebuah pertanyaan tentang siapa di antara 12 murid yang tidak hadir pada waktu momen penting tersebut.
Tentang figur Yohanes yang tampak feminin, hal ini harus dipahami dalam konteks jaman Renaissance. Orang-orang pada jaman itu terbiasa menggambarkan figur “murid yang ideal” dengan wajah yang tampak sangat muda, rambut yang panjang dan wajah yang bersih dari kumis dan jenggot. Gambaran ini berguna untuk menunjukkan bahwa seorang murid masih belum berpengalaman dan perlu terus bersama dengan gurunya. Tidak heran, wajah Yohanes dalam beberapa lukisan jaman Renaissance juga memiliki penampilan yang hampir sama dengan yang ada di lukisan The Last Supper. Gambaran tentang murid yang ideal untuk Yohanes sangat sesuai dengan karakter Yohanes di Injil Yohanes. Ia disebut dengan “murid yang dikasihi Tuhan” dan paling cepat memahami sesuatu (Yoh 20:2, 4, 8; 21:7, 20).
Maria Magdalena di luar Alkitab
Figur Maria Magdalena memiliki peranan sangat sentral dalam DVC. Secara umum dapat dikatakan bahwa misteri yang ingin diungkap dalam DVC berpusat pada Maria Magdalena (dan Yesus). Gambaran “baru” tentang Maria Magdalena dalam DVC berhubungan dengan pemunculan Maria Magdalena dalam tulisan bapa gereja dan naskah-naskah kuno yang beraliran Gnostik.
Datum pertama terdapat dalam tulisan bapa gereja Hippolytus, abad ke-3, dalam tafsiran Kidung Agung 24-26. Ia menulis “supaya rasul-rasul wanita tidak meragukan malaikat-malaikat, Kristus sendiri datang kepada mereka supaya mereka menjadi rasul-rasul Kristus dan dengan ketaatan mereka memperbaiki dosa Hawa yang dulu...Kristus datang kepada rasul-rasul laki-laki dan berkata kepada mereka:...’Akulah yang menampakkan diri kepada wanita-wanita ini dan Akulah yang mengirim mereka kepadamu sebagai rasul [dari para rasul]’”.
Teks berikutnya yang penting adalah Injil Filipus 63:32-64:10. Bagian yang paling kontroversial terdapat dalam pasal 63:33-36 “dan teman/istri dari [....] Maria Magdalena. [...mengasihi] dia lebih daripada [semua] murid dan [terbiasa] mencium dia [sering] pada [...]nya”. Tanda kurung di atas menunjukkan bagian yang hilang dari naskah kuno yang ditemukan, sehingga menimbulkan spekulasi beragam dari para sarjana. Berdasarkan konteks bagian ini, konteks Injil Filipus secara umum (terutama pasal 58-59) dan ukuran bagian yang hilang para sarjana mencoba merekonstruksi kata apa yang telah hilang. Mereka umumnya merekonstruksi seluruh teks di atas sebagai berikut : “dan teman (istri) dari Juru Selamat Maria Magdalena mengasihi dia lebih daripada semua murid yang lain dan terbiasa mencium dia sering pada mulutnya”. Rekonstruksi seperti ini dianggap menyiratkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.
Teks terakhir berasal dari kitab yang ditulis pada abad ke-2, yang bernama Injil Maria Magdalena. Bagian yang sangat kontroversial adalah Injil Maria 17:10-18:21 yang berbunyi sebagai berikut : “Tetapi Andreas menjawab dan berkata kepada saudara-saudara, “katakan apa yang ingin kalian katakan tentang apa yang telah ia (Maria Magdalena) katakan. Aku setidaknya tidak percaya kalau Juru Selamat mengatakan seperti itu, karena ajaran-ajaran itu jelas merupakan hal yang aneh”. Petrus menjawab dan mengatakan hal yang sama. Ia menanyakan mereka tentang Juru Selamat: “apakah Ia sungguh-sungguh berbicara dengan seorang wanita tanpa pengetahuan kita dan tidak secara publik? Akankah kita berpaling dan semua mendengarkan dia (Maria Magdalena)? Apakah Ia lebih memilih dia daripada kita?” Lalu Maria meratap dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau pikirkan? Apakah engkau berpikir bahwa aku sendiri telah memikirkan hal ini atau aku sedang berdusta tentang Juru Selamat?” Lewi menjawab dan berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu temperamental. Sekarang aku melihat engkau menentang seorang wanita seperti musuh. Tetapi jika Juru Selamat membuat dia layak, akankah engkau sungguh-sungguh menolaknya? Juru Selamat tentu mengenal dia sangat baik. Itulah sebabnya Ia mengasihi dia lebih daripada kita. Sebaliknya, biarlah kita malu dan memakai Manusia sempurna, berpisah sebagaimana Ia memerintahkan kita dan memberitakan Injil, tidak meletakkan hukum atau peraturan lain selain apa yang Juru Selamat katakan”.
Sebelum membahas teks-teks tersebut secara detil, ada beberapa penjelasan dalam DVC yang perlu ditambahkan sehubungan dengan isu kepemimpinan Maria Magdalena. Brown menganggap sumber kuno di atas sebagai bukti atau dasar untuk mengetahui hubungan Yesus dan Maria Magdalena yang sebenarnya. Kanonisasi yang dilakukan gereja pada abad ke-4 (setelah gereja memiliki kekuatan karena dijadikan agama negara) merupakan cara untuk menyingkirkan “sumber-sumber terpercaya” ini dan untuk memberi legitimasi pada kitab-kitab yang sejalan dengan ajaran gereja. Usaha ini selanjutnya didukung oleh berbagai konsili (terutama Konsili Nicea, tahun 325) yang menghasilkan kredo yang menampilkan keilahian Yesus.
Bagaimana meresponi catatan-catatan kuno di atas? Pertama, tentang catatan Hippolytus. Untuk memperjelas masalah, perlu diketahui bahwa frase “rasul dari para rasul” tidak ada dalam tulisan Hippolytus. Tambahan “dari para rasul” baru muncul pada abad ke-10. Hippolytus memang menyebut Maria Magdalena sebagai rasul wanita. Hal ini sesuai dengan catatan kitab-kitab Injil yang menceritakan tentang penampakan diri Yesus kepada Maria Magdalena dan pengutusan Yesus supaya Maria Magdalena pergi kepada para murid (band. Yoh 20:17). Dari sini terlihat bahwa sebelum Konsili Nicea, gereja mula-mula dan bapa-bapa gereja dari kalangan ortodoks tetap mengakui posisi Maria Magdalena sebagai rasul.
Apakah hal itu berarti pandangan Brown benar? Perlu diperhatikan, kutipan Hippolytus tidak berbicara secara khusus tentang Maria Magdalena. Bentuk jamak yang dikenakan pada rasul-rasul wanita dalam kutipan ini menunjukkan bahwa Hippolytus memikirkan perempuan-perempuan lain juga sebagai rasul. Namun, apakah maksud istilah “rasul” di sini? Dalam Perjanjian Baru, kata rasul (apostolos) bisa merujuk pada tiga kelompok: 12 murid (Mat 10:2//Luk 6:13), orang-orang tertentu yang memegang kepempinan dalam gereja secara resmi (misalnya Paulus dan Barnabas, Kis 14:14; Rom 1:1) dan orang-orang Kristen secara umum yang memberitakan Injil (1Kor 9:5-6; 2Kor 8:3, 23; Flp 2:25). Dari konteks kutipan Hippolytus terlihat bahwa “rasul-rasul wanita” adalah mereka yang melihat peristiwa kebangkitan dan diutus memberitakan kabar baik. Jadi, “rasul” di sini tidak berhubungan dengan posisi formal kepemimpinan dalam gereja. Seandainya ini diterima, maka tidak ada yang istimewa dalam kutipan Hippolytus, karena Perjanjian Baru juga menyebut beberapa wanita sebagai rasul maupun nabi, misalnya Yunias (Rom 16:7), anak-anak Filipus (Kis 21:9).
Kedua, tentang Injil Filipus. Ada beberapa hal yang memicu perdebatan para sarjana. Yang terutama adalah arti kata koinonos dalam frase “teman/istri dari [Juru Selamat]”. Kata “koinonos” bisa berarti teman atau istri. Berdasarkan pemakaian kata ini dalam literatur Yunani, koinonos sebaiknya dipahami sebagai teman. Seandainya yang dimaksud adalah “istri”, maka penulis Injil Filipus pasti akan memakai kata yang lebih umum, yaitu “gunh”.
Hal lain yang perlu dibahas adalah ciuman Yesus kepada Maria Magdalena. Kita perlu memahami bahwa tulisan-tulisan Gnostik penuh dengan simbol. Maria Magdalena sendiri dalam Injil Filipus digambarkan sebagai Sang Hikmat, ibu dari para malaikat dan saudara perempuan dari Juru Selamat. Berdasarkan pemahaman tentang genre dan teologi Gnostik ini, kita sebaiknya memahami ciuman Yesus “di bibir” (seandainya kata yang hilang memang demikian) dalam kitab ini secara simbolis, yaitu penerusan firman. Hal ini bisa dipahami karena figur Maria Magdalena sebagai Sang Hikmat. Kasih Yesus kepada Maria Magdalena yang melebihi murid-murid lain bisa dimengerti dengan mudah apabila dikaitkan dengan posisi Maria Magdalena secara mistis dalam tulisan Gnostik.
Ketiga, tentang Injil Maria Magdalena. Sebagaimana dalam tulisan Gnostik lainnya, kitab ini juga memiliki ungkapan-ungkapan yang simbolis dan misterius. Tidak terkecuali Injil Maria Magdalena 17:10-18:21. Teks ini menggambarkan pertentangan antara aliran ortodoks (diwakili oleh Petrus) dan aliran minoritas lain (diwakili tokoh wanita Maria Magdalena). Pertentangan ini juga hanya berhubungan dengan wahyu Allah, bukan jabatan gerejawi. Kaum Gnostik menganggap diri sebagai penerima pengetahuan yang rahasia dari Kristus, sedangkan pengetahuan ini bertentangan dengan ajaran gereja pada umumnya. Jadi, teks ini sama sekali tidak membicarakan tentang perebutan posisi kepemimpinan dalam gereja.
Lihat Part.3
Langganan:
Postingan (Atom)













